Another Love Story…. (Ada yang Putus Dengan Pacar nehh..!!)

Rumus
Putus dengan Mulus

"sorry friends…me
cuman mau ngasih ini ketika denger ente putus…. semoga tali persaudaraan
kalian tetep terjalin. dan tali silahturahmi tetep ada. so sad but it’s true.."

Putus sama pacar rasanya
seperti kiamat. Tapi, bisa dibawa santai kok. Karena ada caranya mengatur emosi.
Enggak sulit, asal mau. Berani mencoba?

uaaah  mau
mati rasanya kalau mendadak sontak harus putus sama pacar tercinta. Tidur jadi susah,
makan tak tertelan, melihat bulan yang cantik hati terasa seperti tercabik-
cabik. Pokoknya enggak enak, deh. Apalagi membayangkan kita bakal menghadapi
pertanyaan teman-teman atau keluarga. Menghadapinya sendirian saja sudah sulit,
bagaimana kalau ditambah dengan pertanyaan, Kenapa bisa begini kenapa bisa
begitu? dari orang- orang di sekitar. Ini adalah salah satu alasan terkuat
yang terkadang membuat kita enggan memutuskan hubungan pacaran, sekalipun
hubungan tersebut sudah kita rasakan tidak sehat lagi. Alasan lain yang paling
banyak dikemukakan adalah banyak sekali di antara kita yang cemas menjadi single
fighter lagi. Sehingga sering kali kita fight untuk sesuatu yang sebenarnya
sudah tidak dapat dipertahankan.

Lalu, apakah ada rumus
khusus untuk memutuskan, apakah kita masih akan lanjut dengan si dia atau kita
malah harus putus? Rumus khusus sebenarnya tidak ada. Keputusan untuk mengakhiri
suatu hubungan terkait pada faktor internal dan eksternal dari hubungan tersebut.
Faktor internal adalah faktor dari pasangan yang menjalin hubungan tersebut
menyangkut masalah persepsi, prinsip, dan komitmen. Sedangkan faktor eksternal
adalah faktor di luar pasangan. Misalnya, faktor keluarga yang tidak setuju
dengan hubungan kita. Tentu saja ada pembedaan pertimbangan ketika harus
memutuskan hubungan sesuai dengan jenis masalahnya.

Faktor keluarga memang
bisa jadi pertimbangan untuk memutuskan hubungan. Untuk yang satu ini kita dapat
mencoba mempertimbangkan masukan-masukan yang didapat dari keluarga. Perhatikan
alasan yang disampaikan oleh keluarga. Jangan-jangan alasan mereka sebetulnya
tidak prinsip. Jika begitu, maka kita bisa membahasnya dengan si pacar, dan
mendekatkannya dengan keluarga. Tak kenal maka tak sayang, kan? Pendekatan
terhadap keluarga dan si dia dalam hal ini memang memakan waktu. Jangan bosan,
karena kalau ditemukan jalan tengah, maka ada kemungkinan hubungan kita masih
bisa dipertahankan.

Jika permasalahan yang
timbul adalah masalah internal, maka langkah paling diperlukan dalam hal ini
adalah jujur pada diri. Kenali masalahnya dengan baik. Nasihat basi, ya. Tapi
benar deh, sering kali kita tidak bisa melihat masalah dari hubungan kita dengan
baik karena kita (tanpa sadar) enggan jujur pada diri sendiri.

Kalau memang kesalahan
yang diperbuat pasangan kita tidak dapat dimaafkan untuk versi banyak orang,
cobalah untuk menilai kesalahan pasangan kita dalam versi diri kita sendiri.
Dalam artian, ukuran yang kita miliki tentu saja berbeda dengan ukuran orang
lain. Yang paling penting adalah introspeksi lagi ke dalam diri kita. Mencoba
mempertimbangkan apakah kita punya andil dalam kesalahan yang diperbuat pasangan
kita. Kunci untuk langkah pertama ini adalah jujur pada diri sendiri. Mencoba
mengikuti kata hati memang tidak ada salahnya, tetapi akan lebih mudah lagi
apabila diseimbangkan dengan jujur pada diri sendiri.

Cobalah jujur

Salah satu reaksi yang
mungkin timbul ketika hubungan yang terjalin mengarah tidak dapat dipertahankan
lagi adalah penolakan terhadap kejadian ini. Perasaan bahwa kita sudah berbuat
yang paling baik selama membina hubungan terkadang malah menghambat untuk
berpikir obyektif mengenai sebab musabab mengapa hal tersebut harus terjadi.
Penolakan adalah satu reaksi yang normal bagi siapa pun yang tiba di ambang
putus hubungan dengan pasangan. Kalau ternyata kita memiliki andil dalam
kesalahan yang dibuat pasangan kita, berarti kita memiliki alternatif sejauh
mana dapat memaafkan kesalahan yang telah diperbuatnya. Kejujuran pada diri
sendiri sangat diperlukan ketika proses introspeksi dilakukan.

Nah, taruhlah ternyata
kita beranggapan tidak dapat memaafkan kesalahan yang telah diperbuat, tapi kok
masih bingung memutuskan hubungan. Di kepala kita masih berkelebatan pikiran "kalau
orang- orang tanya, gimana?, kalau nanti aku enggak punya pacar lagi,
gimana?, kalau putus, aku bakal jomblo seumur hidup, nih!, kalau
pulang malam, nanti siapa yang antar- jemput? dan masih banyak
pertimbangan lain yang jujur saja, tak seberapa prinsip. Alhasil, kita ragu lagi
untuk mengambil keputusan.

So, harus bagaimana dong?
Yang jelas, kita tidak diwajibkan untuk meneruskan satu hubungan apabila tidak
lagi merasa nyaman dengan hubungan tersebut. Kelebatan pikiran yang kemudian
jadi pertimbangan itu memang mengganggu. Tapi, akan lebih mengganggu lagi
apabila kita mempertahankan hubungan tersebut. Karena pasti yang timbul adalah
ketidaknyamanan. Terus, kalau sudah begini mana yang akan kita pertahankan?

Belum kiamat

Putus hubungan dengan
pacar bukan akhir dari segalanya. Ada beberapa kiat yang bisa kita terapkan:
• Menghapus jejaknya. Selama pacaran pasti banyak kenangan yang berupa
barang- barang pemberiannya, tempat- tempat yang pernah kita datangi berdua, dan
sebagainya yang akan mengingatkan ke dia dan membuat hati kita terluka lagi.
Nah, mulailah menyingkirkan barang-barang tersebut dan jangan mendatangi
tempat-tempat yang penuh kenangan dan mulailah membiasakan diri tanpa bayangan
dia.
• Jangan sendirian. Ini adalah musuh utama kalau kita baru putus. Karena
kalau lagi sendirian biasanya pikiran kita melayang ke mana-mana dan pasti
bayangan dia muncul terus. Kalau lagi patah hati usahakan selalu berada di
lingkungan yang banyak orang atau di sekitar teman-teman. Masuk kamar kalau
sudah ngantuk berat jadi enggak berlama-lama melamun di kamar.
• Berpikir positif dan berdamai dengan keadaan. Akhirnya kita akan sadar
bahwa memang tidak ada kecocokan di antara kita dan memang tidak semua yang kita
rencanakan dan kita harapkan bisa berjalan mulus. Ambil hikmahnya bahwa masih
untung bahwa ketidakcocokan ini ketahuan sekarang daripada nanti kalau sudah
nikah, kan lebih runyam lagi urusannya.
• Be happy. Kalau akhirnya putus, ya memang enggak jodoh dan itu bukan
karena kitanya kurang baik, kurang bermutu atau kurang ini dan itu. Yang penting
jangan gara-gara putus kita manyun saja enggak mengurus diri sendiri. Kita harus
tetap meningkatkan harga diri dan tetap percaya diri. Lakukan hal-hal yang dapat
menghibur dan menyenangkan diri kita, misalnya nonton film, beli kaset atau CD
baru, dan seterusnya yang bisa membuat kita happy.

CHATARINA WAHYURINI dan
YAHYA MA’SHUM PKBI Pusat
Dikutip
dari Kompas

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

25. July 2005 by Me My Self
Categories: All Life | 2 comments

Comments (2)

  1. sip2………
    yah mudah-mudahan asmara yang terjalin dengan baik dan komitmen yang kuat tidak maka jalinan asmara tersebut tidak akan mudah putus begitu saja……………:D

  2. aq gak pngen pts ma org yg aq cintai

Leave a Reply

Required fields are marked *