KETIKA ANDA TERPANGGIL

Ketika Anda “terpanggil” untuk berbuat sesuatu, apa
yang terjadi? Pernahkah Anda merasa terpanggil untuk
berbuat sesuatu —kecil maupun besar? Bila pernah,
pernahkah Anda mengamati apa yang terjadi?
Bila pernah, saya percaya Anda mengetahui apa yang
disebut dengan “lupa- waktu” dan “lupa-diri.” Selama
Anda memfungsikan diri dalam rangka menyelenggarakan
keterpanggilan itu, Anda lupa terhadap berjalannya
waktu; bagi Anda, waktu-psikologis terhenti dan
sebaliknya, secara relatif, waktu-kronologis melaju
kencang. Akibatnya, setelah kesadaran Anda akan waktu
pulih kembali, Andapun berseru: “Lho…sudah sore….”
dengan takjim. Dimana si diri ini selama itu? Kemana
rasa-diri ini selama itu? Ia tersisih, terlupakan, ia
tercerap oleh keterpanggilan itu, seperti halnya
waktu-psikologis itu.

Selama itu, Anda boleh jadi berpikir keras, cerdas,
bertindak dengan gesit, cermat, serta tampak penuh
vitalitas, merasa begini atau begitu, namun Anda tak
mengenal apa itu lelah. Segala perangkat si diri
tercerap ke dalam keterpanggilan, sehingga si diri
sendiri melupakan dirinya, dimana yang ada hanyalah
keterpanggilan itu saja. Dari luar, selama Anda ada di
dalam ketercerapan, Anda boleh jadi kelihatan seperti
“orang gila,” hanya lantaran kelihatan menyimpang dan
tidak masuk-akal buat mereka; padahal, Anda sepenuhnya
waras; bahkan lebih waras dari sebelumnya, dan juga
dari mereka. Kalaupun ketika itu Anda juga sempat
mengarahkan perhatian ke luar, yang tak berkaitan
langsung dengan keterpanggilan itu, Anda akan melihat
kalau dunia ini dipenuhi oleh para pemabuk, mereka
yang sedang kesurupan, bahkan mayat-mayat hidup. Dan
oleh karenanya, bisa saja rasa kemanusiaan Anda
tergugah untuk menolong mereka dengan menyadarkan
mereka dari kemabukannya itu, kesurupannya itu,
prilaku hidup layaknya mayat-mayat hidup itu.

Si diri —berikut segenap enerji dan daya-upayanya—
memang tak bisa terlepas dari waktu, dari duet
pikiran-perasaannya. Mereka seiring-sejalan. Dimana
ada si diri, disana ada waktu-psikologis,
waktu-subjektif.
Kalau kita masih “ingat-waktu,” itu tandanya kita
belum “lupa-diri” —yang juga berarti masih berkubang
di alam pikiran-perasaan. Si diri masih berdiri kokoh
diapit oleh sang waktu dan si pikiran. Dan oleh
karenanya, mau-tak-mau, suka-tak-suka, kita akan
cenderung menerapkan pola untung-rugi, pola
kalah-menang, memilih-milih antara yang menyenangkan
dan yang tak menyenangkan. Itulah kerja pokok dari
duet pikiran-perasaan yang membentuk si diri semu ini.

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

16. March 2006 by Me My Self
Categories: All Life, Personal | 5 comments

Comments (5)

  1. jrit! yanuar ini kopi paste apa nulis sendiri?

  2. situ mabok yah?

  3. kebanyakan minum brem kali??
    xixixi…

  4. postingan ini terlalu banyak kalimat2 penyerta yang membingungkan..
    coba postingan ini di singkat menjadi:

    Ketika Anda “terpanggil” untuk berbuat sesuatu, apa yang terjadi? Pernahkah Anda merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu —kecil maupun besar? Bila pernah, pernahkah Anda mengamati apa yang terjadi?

    nah, jawabannya:
    terpanggil untuk berbuat sesuatu biasanya untuk kebaikan.. kalo untuk kejahatan mah namanya bukan terpanggil kalee.. iya gw pernah, walopun gak sering terjadi. biasanya pasti diamati, kadang bisa jadi orang tsb senang, ada yg cuek, ada yang gak merasa, ada juga yang malah kesel, karena ternyata dia gak butuh bantuan, tapi malah gw bantu…

    begitulah..

  5. Wah.. apanya nich yang terpanggil..? Apa dipanggila ama yang diatas? jangan dulu dech.., masih banyak tugas di dunia ini 😀

Leave a Reply

Required fields are marked *