Makna ”Banten” bagi Umat Hindu

Makna ”Banten” bagi Umat Hindu

Upakara yang
dikatakan di Bali sebagai banten, pada banten disebut sebagai Bali. Dalam
Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya
membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro, Tegallalang, Gianyar).
Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara.
Mula-mula terbatas kepada para pengikutnya. Lama-kelamaan berkembang ke penduduk
lain di sekitar Desa Taro. Apakah filosofi banten bagi umat Hindu? Apa itu
banten jika ditinjau dari sudut sastra agama?

================================================
Menurut Ketua Umum PHDI Kabupaten Buleleng Ida Pandita Sri Bhagawam Dwija Warsa
Nawa Sandhi, jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air,
dan api disebut Bali, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan
menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang
dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro.

Lama-kelamaan ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau,
sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali (pulau yang dihuni oleh orang-orang
Bali-red). Lebih tegas lagi, pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan
dengan menggunakan sarana upakara (Bali). Tradisi beragama dengan menggunakan
banten. Selanjutnya dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti Mpu Sangkulputih,
Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sejak kapan
sarana upakara itu berubah nama dari Bali menjadi Banten dan mengapa demikian,
sulit mencari sumber sastranya? Menurutnya, beberapa sulinggih dihubungi ada
yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten, mengalami perubahan dari
kata wantu atau bantu. Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga
timbul pengertian bahwa Bali atau banten adalah niyasa atau simbol keagamaan.



Menurut Ketua III Paruman Pandita PHDI Propinsi Bali ini, umat Hindu
melaksanakan ajaran agamanya antara lain melalui empat jalan atau cara (marga).
Keempat cara itu yakni Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Raja Marga.
Bhakti Marga dan Karma Marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim
disebut sebagai Apara Bhakti. Tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar
diri masing-masing dilaksanakan Jnana Marga dan Raja Marga yang disebut sebagai
Para Bhakti.

Dikatakan, pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak
menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara
lainnya. Seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol
lainnya berkurang. Umumnya di Bali, keempat marga itu dilaksanakan sekaligus
dalam bentuk upacara agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri atas
bahan pokok daun, bunga, buah, air dan api. Sarana-sarana mempunyai fungsi
persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi. Sebagai alat konsentrasi
memuja Hyang Widhi. Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya. Sebagai
alat penyucian.

Oleh karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya Prakerti
disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi
kepada siapa banten itu akan dihaturkan atau dipersembahkan. Dalam buku Kesatuan
Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang
disahkan PHDI disebutkan, seorang tukang banten hendaknya sudah menyucikan diri
dengan upacara pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban bebangkit).

Lebih lanjut Ketua PHDI Bulelang ini mengatakan, tujuan penyucian agar tukang
banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten.
Misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan
mempersembahkannya kepada Hyang Widhi. Di kala membuat banten, kesucian dan
kedamaian hati tetap terjaga. Misalnya, tidak mengeluarkan kata-kata kasar.
Tidak dalam keadaan kesal atau sedih. Tidak sedang cuntaka, tidak sedang
berpakaian yang tidak pantas. Menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten
di sembarang tempat.

Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral,
konsentrasi penuh, rasa bakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah
ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten
disebut Pensucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang
tidak berkepentingan. Bahkan, dewasa atau hari baik untuk memulai membuat banten
ditetapkan dengan teliti oleh para sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten
juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam atau dipegang oleh
anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka.

Dikatakan, beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh sang
Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg gumi. Untuk menegaskan penting dan
sakralnya banten, Mpu Jiwaya — salah seorang tokoh pemimpin agama pada abad
ke-10 — mengajarkan membuat reringgitan dengan bahan daun kelapa, anau atau
lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus
penuh. ”Jika tidak, bisa reringgitan-nya rusak atau tangannya yang teriris
pisau,” katanya. Ditambahkan, makna membuat banten seperti yang dikemukakan di
atas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bakti dan kasih sayang kepada
Hyang Widhi.

Sesuaikan dengan Kondisi Zaman

Bagaimana dengan di zaman Kali ini? Menurut Ida Pedanda Sri Bhagawan Dwija Warsa
Nawa Sandhi, zaman beredar dan kini kita hidup di era milenium. Kemampuan kita
menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai
masalah. Misalnya, kelangkaan bahan-bahan baku banten. Waktu yang terbatas untuk
membuat banten. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.

Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten, katanya, sudah dimaklumi, karena
busung, pisang, kelapa, telur, bebek dan ayam, tidak sedikit yang sudah
didatangkan dari luar Bali (Sulawesi, Lombok dan Jawa). Waktu yang terbatas bagi
umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian
besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya nunas
puput.

Dikatakan, generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran
agama Hindu (di Bali) dalam bentuk ritual atau upacara menjadi sangat sulit dan
mahal. ”Model” umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini
terlihat sudah lumrah seperti sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas
ayaban di geria lengkap dengan sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis
walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat
banten hilang.

Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya, agaknya hal
yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten. Apalah artinya
banten jika sang yajamana tidak mengerti makna banten yang dipersembahkan kepada
Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orangtua kita, tetapi
ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan kepada orangtuamu? Jawabannya,
ya… enggak tahu tuh. Aneh kan?

Fenomena seperti itu, katanya, akan terus berkembang. Lebih-lebih bilamana dalam
suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya
mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak. Konsep-konsep
Manawa Dharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara
suami dan istri banyak tidak berlaku lagi.

Suami mestinya menghidupi keluarga, dan istri mestinya mengurus rumah, terutama
masalah panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten. Adakah jalan keluar
menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu
dikemukakan. Dalam banyak kitab suci antara lain Manawa Dharmasastra, Parasara
Dharmasastra disebutkan bahwa cara kita beragam, di setiap zaman tidaklah sama.

* Suentra
Balipost 7 Agustus 2002

banten,hindhu,upakara

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

17. November 2005 by Me My Self
Categories: All Life, Personal, Religi | 12 comments

Comments (12)

  1. Om Swastiastu
    saya baru pertama kali berkunjung kesini, lain waktu saya pasti akan datang lagi.
    mohon di bantu, tiang Kelian Sekaa Teruna ring Desa Pecatu-Badung, ring bulan juni tahun 2006 niki jagi kamargiang lomba Dharma Wacana, yen dados tiang nunasang mangda titiang polih masukan tentang “DANA PUNIA TERGOLONG PARA BHAKTI DAN LEBIH UTAMA DARI RITUAL” mohon masukan untuk bahan saya dalam membuat naskah dharma wacana punika. yen dados, kirim ke: sutek_uluwatu@yahoo.com
    suksma
    Om Santh, Santih, Santih Om

  2. Om Swastyastu

    Rahajeng magatra marep ring sameton krama Bali ring sajebag Jagat Bali. Mogi rahayu setata. Suksma

    Rahajeng

  3. Om Swastyastu
    saya sangat beruntung bisa mengunjungi website ini. pada kesempatan ini saya ingin sedikit menanyakan tentang makna bunga yang bisa digunakan sebagai sarana sembahyang. apakan bisa dibabarkan beberapa jenis bunga yang bisa digunakan dan filosofi apa yang mendasarinya sehingga itu bisa digunakan sebagai sarana upacara. mohon diberikan penjelasan untuk setiap bunganya (jika memungkinkan). mohon dibantu. jika berkenan jawaban tolong dikirim kealamat e-mail saya.
    suksma
    om cantih, cantih, cantih, om

  4. Om Swastyastu

    Blog anda sangat informatif mengulas tentang banten. Jika berkenan dapat juga melihat ke http://www.sapteka.net/daksina.htm

    Rahajeng.

  5. om swastyastu . .

    blog anda sangat informatif bagi saya .
    dan saya ingin bertanya ,
    bagaimana seharusnya sikap yang baik pada waktu sembahyang agar dapat sampai kepada-Nya ?
    dan apa saja yang menjadi ciri jika kita sudah sembahyang dengan baik hingga sampai kepada-Nya ?

    mohon dijelaskan .
    terima kasih .
    :)

  6. Menarik sekali, saya sebagai kaum muda umat Hindu mungkin perlu saran dari bapak tentang makna banten itu sendiri (banten sederhana untuk dirumah) yang kebanyakan umat Hindu kurang memahaminya

  7. om swastyastuu …

    saia pelajaar darii samarindaa KALTIM…
    makasii iah ,, blog bapak sangaat berguna .. :) memudahkan saia mengetahui arti banten itu sendiiri .. walau saia kurang memahamii maknanya .. yang jelas blog ini menambah inspirasi saia untuk bahan dharma wacana saia .. :)

    sukseme ..
    om shanti . shanti . shanti om

  8. Om Swastyastu,
    Blog Bapak sangat membantu generasi muda untuk mulai menumbuhkan keingin tahuan tentang makna hidup sebagai umat Hindu. Maka mulailah membuat banten sederhana sendiri, karena ada kepuasan saat kita menghaturkan pada Ida Betara

  9. tlisan ini sangat menarik, mohon kalau ada jenis banten untuk rainan tertentu beserta fotonya, selama ini istri tiang yang bukan orang bali, membuat banten rainan seperti diajarkan alm. orang tua, sekarang tidak ada tempat bertanya, wantah dados kirim ke email : kssanaandy@yahoo.com matur suksma

  10. Om Swastyastu,

    Saya seorang ibu rumah tangga, dimana kah saya bisa beli buku untuk bebantenan bali, dan apakah isi dari buku tersebut bisa sama dengan adat, sesui dan di pelajari menurut adat dan desa kala patra

    suksema

  11. Om Swastyastu,
    Pak Made salam kenal, tiang ketut saking bali kauh,nyening dados tiang tunas, napi meduwe lontar plutuk sane sampun disalin,yening meduwe nunas copyanya manten. Ampura tur suksema.

  12. saran saya kalamau beli buku mengenai banten bisa beli di pura rawamangun atau datang pada piodalan salah satu pura biasanya banyak yang jual buku atau langsung pesan jika tidak ada menurut pandangan saya penggunaan banten jangan memeksa diri kalau belum bisa buatlah canang sari kalau sudah bisa belajar buat pejati semua itu nkeiklasan dasarnya menurut bagawadgita patram, puspam,phalam toyam jadi dasarnya cuman itu dikembangkan sesuai analisa daya pikir buat pengulapan, prayascita,pengambian,penyeneng, suci dll semua simbul jaka blm mengerti buat sebisanya jadi tuhan tidak mempersulit umatnya beagama supaya kita berbahagia bukan jadi stres krn tdk bisa buat banten sukseme mhn maaf ampura

Leave a Reply

Required fields are marked *