Menghitung Dosa dan Jasa

Menghitung Dosa dan Jasa

BERBUAT jasa dan dosa bagi umat manusia di dunia ini merupakan suatu kenyataan yang tidak mungkin dihindari. Tidak ada manusia yang dalam hidupnya ini hanya berbuat jasa saja atau sebaliknya hanya melakukan dosa melulu. Keduanya itu pasti pernah dilakukan. Meskipun umumnya berbuat jahat yang membawa dosa itu sering dilakukan tidak disengaja. Atau karena kemampuan mencegah perbuatan dosa sangat lemah. Perbuatan dosa umumnya timbul dari gejolak nafsu yang tidak terdidik. Kalau nafsu itu sering dilatih untuk patuh pada pikiran dan kesadaran budhi maka berbuat dosa itu akan dapat dipersedikit. Setidak-tidaknya kadar intensitas dosa itu dapat lebih diturunkan. Namun, untuk sama sekali tidak melakukan dosa mungkin pada zaman Kali ini sesuatu yang merupakan impian belaka.

Berbuat jasa umumnya selalu diniatkan orang. Karena itu dalam tradisi kearifan lokal Bali ada istilah ”sing ada anak matapa jelek”. Artinya, tidak ada orang meniatkan sesuatu yang tidak baik. Setiap orang dalam hidupnya ini pasti berharap dapat berbuat jasa. Karena manusia yang lahir ke dunia ini penuh dengan keterbatasan maka apa yang diharapkan tidak persis ia mampu wujudkan dalam praktik kehidupannya.

Dilikuidasinya Bank Dagang Bali dan sebelumnya Bank Aken, Bank Pelita Kencana, Bank Pasar Ratnadi, Bank Sadar, dan Bank Perniagaan Umum yang pindah kepemilikannya dari pengusaha orang Bali (Hindu) ke pengusaha luar Bali, semuanya itu patut menjadikan orang Bali menarik napas panjang. Kita perlu melihat peristiwa itu secara jernih dengan daya nalar yang tinggi. Tidak hanya memandangnya secara emosional, apalagi menertawakannya. Peristiwa tersebut patut kita lihat menurut cara pandang ajaran Hindu yang disebut rwa bhineda. Apa jasa dan apa pula dosa dari pengusaha yang mengoperasikan semua bank milik putra Bali tersebut. Jasa dan dosanya patut ”dihitung” secara adil dan ilmiah. Hasil hitung-hitungan itu patut dicatat dengan sebaik-baiknya untuk dijadikan guru bagi kita semuanya.

Pengalaman baik dan buruk kalau kita hadapi dengan tenang dan tawakal semuanya akan menjadi guru yang baik. Orang tua menyatakan, ”pengalaman adalah guru yang paling berguna.” Segala jasa yang pernah dibuat oleh pengelola semua bisnis keuangan tersebut patut juga dicatat dan diingat secara jujur dan adil. Demikian juga berbagai kelemahan, kesalahan dan mungkin dosa yang terjadi juga patut dicermati untuk dicatat dengan baik. Selanjutnya diupayakan jangan sampai diulangi oleh orang lain atau generasi selanjutnya.

Jasa dan dosa tersebut patut kita jadikan cambuk untuk membuat kita makin dewasa. Janganlah kita bertahyul bahwa orang Bali tidak berbakat menjadi pengusaha sukses. Mari kita buang tahyul seperti itu. Cuma, membuang tahyul seperti itu tidaklah mudah. Lebih-lebih mereka yang sikap hidupnya telanjur dibelenggu oleh adat yang keliru. Adat itu seolah-olah takdir yang tidak bisa diubah dan dihindari. Kalau sikap hidup tersebut dapat kita ubah menjadi sesuai dengan ajaran Hindu, perubahan dapat dilakukan melalui karma yang baik. Tanpa melakukan karma yang baik Tuhan tidak akan mengubah dengan sendirinya nasib kita. Cuma karma baik itu adalah karma yang didasari oleh Jnyana dan Bhakti. Maksudnya berkarma itu hendaknya dengan dasar pengetahuan yang dalam tentang apa yang dikerjakan. Hal itu dilakukan sebagai makhluk ciptaan Tuhan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan.

Karma harus didasari oleh Jnyana. Jnyana adalah ilmu pengetahuan. Ini berarti melakukan bisnis jangan sampai tanpa pengetahuan mengenai bisnis bersangkutan. Setiap bidang usaha memiliki ilmunya masing-masing. Seperti melakukan bisnis keuangan dalam bentuk bank, tentunya memerlukan banyak ilmu yang harus dilibatkan dalam mengembangkan bisnis keuangan tersebut. Ini artinya lakukanlah bisnis tersebut menurut ilmunya dan norma-norma yang berlaku untuk bisnis tersebut. Dalam ilmu dan norma-norma hukum itulah akan ditemui berbagai kriteria untuk mengoperasikan suatu usaha yang disebut layak. Kriteria ilmu dan norma hukum positif itulah sebagai salah satu alat untuk mengukur jasa dan dosa beberapa usaha bank yang dilikuidasi.

Ibarat melihat sebuah rapor murid. Angka-angka yang baik dan angka merah janganlah dicampur aduk. Artinya, marilah kita lihat dengan hati yang jernih angka-angka rapor perusahaan yang dilikuidasi. Dari situlah kita rumuskan karma-karma ke depan untuk menjadikan angka yang baik sebagai pengalaman yang harus dijadikan pelajaran. Sedangkan angka-angka merah dijadikan acuan agar jangan sampai terulang pada generasi-generasi selanjutnya.

Sikap jernih seperti ini perlu kita sosialisasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Semua ciptaan Tuhan di dunia ini tidak ada yang mutlak. Dalam reruntuhan usaha bank yang dilikuidasi itu pasti ada hal-hal yang patut kita cermati dan renungkan secara jernih. Jasa-jasanya patut dihargai sebagaimana wajarnya. Dosa-dosanya juga harus diperlakukan secara adil, karena semuanya itu tidaklah berdiri sendiri. Ada dosa karena memang ada niat. Tetapi ada juga karena didorong oleh kesempatan dan kelengahan.

Agama,Hindu,dosa,jasa,

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

24. October 2005 by Me My Self
Categories: All Life, Religi | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *