TENTANG SPIRITUALITAS

Dibeberapa tempat dijabarkan bahwa spiritual adalah hal-hal yang berhubungan
dengan dunia agama.
bahkan tokoh-tokoh agama bisa disebut dengan tokoh spiritual. tapi apakah
mereka sendiri mengerti hakekat spiritual itu sendiri.?
yah.. inilah yang mengilhami kenapa sampai ada pencarian hakekat spiritual.
berikut ada kutipan dari Albert Einstein tentang Spiritualitas.
ada beberapa point yang bisa diambil dari pernyataan dibawah, semoga bisa
disimpulkan dan dipahami.

  1. Saya ingin memahami pemikiran Tuhan; selebihnya adalah soal detail saja
  2. Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa pengetahuan
    adalah buta.
  3. Agama saya terdiri dari seuntai kekaguman yang sederhana, terhadap suatu
    kekuatan supra yang tak-terbatas – yang tertampak dalam rincian yang dapat
    kita cerap menggunakan persepsi lemah dan remang kita.
  4. Semakin jauh kemajuan evolusi spiritual umat manusia, semakin pasti bagi
    saya bahwa: jalan menuju religiusitas sejati tak semata-mata terletak pada
    ketakutan terhadap kehidupan, ketakutan terhadap kematian, keyakinan yang
    membuta; namun suatu perjuangan mengikuti kaidah-kaidah pengetahuan rasional.
  5. Setiap orang yang terlibat secara serius didalam pencarian pengetahuan,
    menjadi yakin bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum Semesta
    raya – jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu
    dimana dihadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita terasa sedemikian
    lemahnya.
  6. Rasa religius para ilmuwan berbentuk suatu kekaguman, yang terpesona pada
    keharmonisan hukum alam; yang menampakan suatu superioritas kecerdasan,
    dibandingkan dengan seluruh sistematika berpikir dan bertindak dari umat
    manusia, dalam suatu refleksi signifikan yang tak terbantahkan lagi.
  7. Tiada cara logis untuk mengungkap hukum-hukum elemental. Yang ada hanyalah
    cara intuitif, yang dibantu oleh suatu ketajaman rasa, terhadap runtutan yang
    melandasi di balik suatu penampakan.
  8. Batin intuitif adalah anugrah sakral, dan pikiran rasional adalah ‘pelayan’
    setianya. Kita telah membangun sebuah tatanan masyarakat yang memulyakan ‘pelayan’
    dan melupakan anugrah.
  9. Sesuatu yang terindah yang kita alami adalah: pengalaman misterius kita;
    Ia-lah sumber dari seni dan pengetahuan sejati.
  10. Kita mesti waspada untuk tidak menjadikan intelek sebagai Tuhan kita; ia
    memang memiliki kekuatan, namun ia tak memiliki kepribadian.
  11. Barang siapa yang memfungsikan dirinya sebagai hakim dari Kebenaran dan
    Pengetahuan, akan porak-poranda menjadi bahan tertawaan para dewata.
  12. Bila mana jalan keluar terasa mudah, Tuhan-lah yang memberikan jawaban.
  13. Tuhan tidak mempermainkan semesta seperti dadu.
  14. Tuhan sedemikian licinnya, namun Ia tak bermaksud jahat.
  15. Umat manusia adalah bahagian dari keseluruhan, dari apa yang kita sebut
    dengan Semesta, bahagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Ia mengalami
    diri-Nya sendiri, pikiran dan perasaan-Nya ibarat terlepas dari yang lainnya
    — yang bersifat seperti khayalan optik — terhadap Kesadaran-Nya. Khayalan
    ini, sesungguhnya adalah sejenis ‘penjara’, yang mengekang kita dari
    nafsu-nafsu keinginan pribadi dan dari beberapa orang terdekat, kesayangan
    kita. Tugas kita adalah membebaskan diri dari penjara ini, dengan cara
    memperluas lingkaran pengorbanan kita, hingga mencakup semua makhluk hidup dan
    seluruh alam dalam keindahannya.
  16. Tiada sesuatupun yang memberi nilai manfaat pada kesehatan manusia dan
    memberikan kesempatan hidup di muka Bumi ini, sebesar evolusi yang diberikan
    oleh pola makan vegetaris.
  17. Manusia yang menjalani hidupnya secara tak bermanfaat bagi makhluk lainnya,
    bukan saja tak beruntung, akan tetapi nyaris tak layak bagi kehidupan.
  18. Perdamaian tidak dapat dijaga dengan Kekuatan. Ia hanya dapat dicapai
    melalui saling pengertian.
  19. Hanya kehidupan bagi kehidupan lain sajalah, yang bermanfaat.
  20. Pikiran manusia tak mampu untuk meraih Semesta. Kita ibarat seorang anak
    yang memasuki perpustakaan raksasa. Dinding-dinding dan langit-lagitnya
    tertutup rapat oleh buku-buku dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Si anak
    mengetahui bahwa, pasti ada seseorang yang menulis semua buku-buku itu; walau
    ia tak mengetahui siapa dan bagaimana caranya. Iapun tak mengerti bahasa yang
    digunakan dalam penulisan buku-buku itu. Akan tetapi, si anak mencatat adanya
    suatu rancangan baku dalam susunan buku-buku tersebut serta dalam urutannya —
    yang misterius — yang tak ia pahami, kecuali melalui dugaan-dugaan picisannya
    saja.
  21. Yang terpenting adalah, untuk tidak berhenti mempertanyakannya.
    Keingin-tahuan memiliki alasannya sendiri dalam membangkitkan rasa panasaran.
    Seseorang tak dapat membantu, namun hanya terpesona ketika ia berkontemplasi:
    terhadap misteri-misteri kekekalan, terhadap kehidupan, terhadap struktur
    realitas yang mengagumkan. Adalah cukup, bila seseorang mencoba melengkapi
    dirinya dengan secuil misteri setiap hari. Tanpa kehilangan kekagumannya yang
    holistik itu.
  22. Apa yang saya saksikan di Alam, adalah suatu struktur yang mengagumkan
    yang hanya dapat kita pahami dengan tak-sempurna, dimana seorang pemikir
    semestinya merasa sedemikian rendahnya. Tak ada yang dapat dilakukan terhadap
    mistikisme, inilah ungkapan rasa religiusitas yang murni.
  23. Emosi terhalus kita, dimana kita mampu merasakannya, adalah emosi mistis.
    Disinilah tergelar bagian terkecil dari semua seni dan pengetahuan sejati.
    Siapapun yang asing bagi perasaan ini, yang tak lagi mampu merasakan
    ketakjuban, dan hidup dalam kondisi ketakutan, sesungguhnya telah mati. Guna
    mengetahui sesuatu yang tak terselami bagi kita, sebetulnya benar-benar ada
    dan memanifestasikan dirinya sebagai kebijaksanaan tertinggi dan keindahan
    yang paling bersinar, dimana bentuk terkasar dari pengetahuan inipun merupakan
    suatu yang membutuhkan intelektualitas yang memadai; perasaan ini adalah …..sentimen
    religius yang sesungguhnya. Dalam pengertian ini……dan hanya dalam
    pengetian inilah, saya menempatkan diri saya dalam deretan manusia-manusia
    religius besar.
  24. Masalah nyata bagi kita adalah hati dan batin manusia. Adalah lebih mudah
    mengubah sifat plutonium, dibandingkan dengan merubah sifat ke-setan-an dalam
    diri manusia.
  25. Agama Sejati adalah kehidupan nyata, hidup dalam jiwa manusia, hidup dalam
    kebajikan dan hidup dalam kebenaran, bagi semua.
  26. Intelejensia memberi kejelasan kesaling-tergantungan antara makna-makna
    dan jawaban akhir daripadanya. Akan tetapi, hanya dengan memikirkannya saja,
    tak dapat memberikan kita rasa – tentang akhir yang bersifat fundamental dan
    ultima tersebut. Guna memperjelas akhir fundamental dan nilai-nilai, serta
    mempercepat mereka dalam kehidupan emosional individu, dengan persis tertampak
    oleh saya bahwa: fungsi yang paling penting dari agama adalah bila agama
    berhasil membentuk kehidupan sosial manusia.

    _________________________________________
    Adopted from "The Divine Life Society’s website".
    Last Updated: Mon Jul 22, 1996
    Interpreted by: anatta-bali.

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

11. May 2006 by Me My Self
Categories: All Life | 2 comments

Comments (2)

  1. haiyah…kupipes semua.. 🙁
    hmmm…menarik juga…ntar ah dibahas ah…:D

  2. Its interesting for me, and I’m still working on it for my final paper 🙂 Thnx

Leave a Reply

Required fields are marked *