TENTANG SPIRITUALITAS
Dibeberapa tempat dijabarkan bahwa spiritual adalah hal-hal yang berhubungan
dengan dunia agama.
bahkan tokoh-tokoh agama bisa disebut dengan tokoh spiritual. tapi apakah
mereka sendiri mengerti hakekat spiritual itu sendiri.?
yah.. inilah yang mengilhami kenapa sampai ada pencarian hakekat spiritual.
berikut ada kutipan dari Albert Einstein tentang Spiritualitas.
ada beberapa point yang bisa diambil dari pernyataan dibawah, semoga bisa
disimpulkan dan dipahami.
- Saya ingin memahami pemikiran Tuhan; selebihnya adalah soal detail saja
- Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa pengetahuan
adalah buta. - Agama saya terdiri dari seuntai kekaguman yang sederhana, terhadap suatu
kekuatan supra yang tak-terbatas – yang tertampak dalam rincian yang dapat
kita cerap menggunakan persepsi lemah dan remang kita. - Semakin jauh kemajuan evolusi spiritual umat manusia, semakin pasti bagi
saya bahwa: jalan menuju religiusitas sejati tak semata-mata terletak pada
ketakutan terhadap kehidupan, ketakutan terhadap kematian, keyakinan yang
membuta; namun suatu perjuangan mengikuti kaidah-kaidah pengetahuan rasional. - Setiap orang yang terlibat secara serius didalam pencarian pengetahuan,
menjadi yakin bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum Semesta
raya – jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu
dimana dihadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita terasa sedemikian
lemahnya. - Rasa religius para ilmuwan berbentuk suatu kekaguman, yang terpesona pada
keharmonisan hukum alam; yang menampakan suatu superioritas kecerdasan,
dibandingkan dengan seluruh sistematika berpikir dan bertindak dari umat
manusia, dalam suatu refleksi signifikan yang tak terbantahkan lagi. - Tiada cara logis untuk mengungkap hukum-hukum elemental. Yang ada hanyalah
cara intuitif, yang dibantu oleh suatu ketajaman rasa, terhadap runtutan yang
melandasi di balik suatu penampakan. - Batin intuitif adalah anugrah sakral, dan pikiran rasional adalah ‘pelayan’
setianya. Kita telah membangun sebuah tatanan masyarakat yang memulyakan ‘pelayan’
dan melupakan anugrah. - Sesuatu yang terindah yang kita alami adalah: pengalaman misterius kita;
Ia-lah sumber dari seni dan pengetahuan sejati. - Kita mesti waspada untuk tidak menjadikan intelek sebagai Tuhan kita; ia
memang memiliki kekuatan, namun ia tak memiliki kepribadian. - Barang siapa yang memfungsikan dirinya sebagai hakim dari Kebenaran dan
Pengetahuan, akan porak-poranda menjadi bahan tertawaan para dewata. - Bila mana jalan keluar terasa mudah, Tuhan-lah yang memberikan jawaban.
- Tuhan tidak mempermainkan semesta seperti dadu.
- Tuhan sedemikian licinnya, namun Ia tak bermaksud jahat.
- Umat manusia adalah bahagian dari keseluruhan, dari apa yang kita sebut
dengan Semesta, bahagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Ia mengalami
diri-Nya sendiri, pikiran dan perasaan-Nya ibarat terlepas dari yang lainnya
— yang bersifat seperti khayalan optik — terhadap Kesadaran-Nya. Khayalan
ini, sesungguhnya adalah sejenis ‘penjara’, yang mengekang kita dari
nafsu-nafsu keinginan pribadi dan dari beberapa orang terdekat, kesayangan
kita. Tugas kita adalah membebaskan diri dari penjara ini, dengan cara
memperluas lingkaran pengorbanan kita, hingga mencakup semua makhluk hidup dan
seluruh alam dalam keindahannya. - Tiada sesuatupun yang memberi nilai manfaat pada kesehatan manusia dan
memberikan kesempatan hidup di muka Bumi ini, sebesar evolusi yang diberikan
oleh pola makan vegetaris. - Manusia yang menjalani hidupnya secara tak bermanfaat bagi makhluk lainnya,
bukan saja tak beruntung, akan tetapi nyaris tak layak bagi kehidupan. - Perdamaian tidak dapat dijaga dengan Kekuatan. Ia hanya dapat dicapai
melalui saling pengertian. - Hanya kehidupan bagi kehidupan lain sajalah, yang bermanfaat.
- Pikiran manusia tak mampu untuk meraih Semesta. Kita ibarat seorang anak
yang memasuki perpustakaan raksasa. Dinding-dinding dan langit-lagitnya
tertutup rapat oleh buku-buku dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Si anak
mengetahui bahwa, pasti ada seseorang yang menulis semua buku-buku itu; walau
ia tak mengetahui siapa dan bagaimana caranya. Iapun tak mengerti bahasa yang
digunakan dalam penulisan buku-buku itu. Akan tetapi, si anak mencatat adanya
suatu rancangan baku dalam susunan buku-buku tersebut serta dalam urutannya —
yang misterius — yang tak ia pahami, kecuali melalui dugaan-dugaan picisannya
saja. - Yang terpenting adalah, untuk tidak berhenti mempertanyakannya.
Keingin-tahuan memiliki alasannya sendiri dalam membangkitkan rasa panasaran.
Seseorang tak dapat membantu, namun hanya terpesona ketika ia berkontemplasi:
terhadap misteri-misteri kekekalan, terhadap kehidupan, terhadap struktur
realitas yang mengagumkan. Adalah cukup, bila seseorang mencoba melengkapi
dirinya dengan secuil misteri setiap hari. Tanpa kehilangan kekagumannya yang
holistik itu. - Apa yang saya saksikan di Alam, adalah suatu struktur yang mengagumkan
yang hanya dapat kita pahami dengan tak-sempurna, dimana seorang pemikir
semestinya merasa sedemikian rendahnya. Tak ada yang dapat dilakukan terhadap
mistikisme, inilah ungkapan rasa religiusitas yang murni. - Emosi terhalus kita, dimana kita mampu merasakannya, adalah emosi mistis.
Disinilah tergelar bagian terkecil dari semua seni dan pengetahuan sejati.
Siapapun yang asing bagi perasaan ini, yang tak lagi mampu merasakan
ketakjuban, dan hidup dalam kondisi ketakutan, sesungguhnya telah mati. Guna
mengetahui sesuatu yang tak terselami bagi kita, sebetulnya benar-benar ada
dan memanifestasikan dirinya sebagai kebijaksanaan tertinggi dan keindahan
yang paling bersinar, dimana bentuk terkasar dari pengetahuan inipun merupakan
suatu yang membutuhkan intelektualitas yang memadai; perasaan ini adalah …..sentimen
religius yang sesungguhnya. Dalam pengertian ini……dan hanya dalam
pengetian inilah, saya menempatkan diri saya dalam deretan manusia-manusia
religius besar. - Masalah nyata bagi kita adalah hati dan batin manusia. Adalah lebih mudah
mengubah sifat plutonium, dibandingkan dengan merubah sifat ke-setan-an dalam
diri manusia. - Agama Sejati adalah kehidupan nyata, hidup dalam jiwa manusia, hidup dalam
kebajikan dan hidup dalam kebenaran, bagi semua. - Intelejensia memberi kejelasan kesaling-tergantungan antara makna-makna
dan jawaban akhir daripadanya. Akan tetapi, hanya dengan memikirkannya saja,
tak dapat memberikan kita rasa – tentang akhir yang bersifat fundamental dan
ultima tersebut. Guna memperjelas akhir fundamental dan nilai-nilai, serta
mempercepat mereka dalam kehidupan emosional individu, dengan persis tertampak
oleh saya bahwa: fungsi yang paling penting dari agama adalah bila agama
berhasil membentuk kehidupan sosial manusia._________________________________________
Adopted from "The Divine Life Society’s website".
Last Updated: Mon Jul 22, 1996
Interpreted by: anatta-bali.













This post has 2 comments
May 11th, 2006
Reply
February 10th, 2007
Reply
Add a comment