Mendaki Gunung Agung

Dengan menerapkan Tri Hita Karana secara mantap, kreatif dan dinamis akan terwujudlah kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.

Begitulah nilai budaya dari Tri Hita Karana yang menurut ajaran hindu yang salah satunya adalah hubungan manusia dengan alam sekitar. Tri Hita Karana sendiri kalau diartikan merupakan tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada kerharmonisan hubungan antara manusia dengan tuhannya, manusia dengan alam sekitarnya, manusia dengan manusia.

Dari konsep diatas, diriku mencoba melaksanakan harmonisasi hubungan antara manusia dengan alam sekitar dengan melakukan pendakian ke gunung agung minggu lalu. 

Diawali dengan berkumpulnya teman-teman dari BOC dirumah sang komandan sidhar, maka tersusunlah rencana mendaki dengan melewati jalur selat dan hal-hal yang perlu diperhatikan selama pendakian tersebut. Awalnya pemilihan jalur mendaki sedikit membuat perdebatan bagi teman-teman BOC. disamping faktor waktu tempuh, kondisi rekan-rekan yang baru pertama kali mendaki akan sangat menentukan bagimana proses sampai puncaknya. akhirnya melalui voting, skor 10 selat dengan 2 jalur besakih menjadikan jalur pendakian lewat selat yang akan dilewati.

Gunung Agung merupakan gunung yang sangat disakralkan oleh masyarakat bali. berletak pada ketinggian 3.142 mdpl (3.031 meter), gunung ini terlihat bagaimana anggunnya sebuah gunung ketika berada dalam radius pemandangan (pura  besakih, pura pasar agung,..) disekitar lereng gunung agung tersebut. berletak di desa sebudi kecamatan rendang kabupaten karangasem, gunung agung ini mempunyai banyak cerita rakyat yang jika dihubungkan dengan segi tradisi dan budaya masyarakat bali akan menjadikan gunung agung sebagai subyek dengan para pelaku history yang sampai saat ini diyakini oleh masyarakat bali itu sendiri.

Perjalanan mendaki gunung agung bisa melalui berbagai jalur yang salah satunya adalah jalur selat dan melewati pura pasar agung.  jalur ini relatif lebih pendek waktu tempuhnya (4 – 8 jam) daripada jalur yang melewati pura besakih dengan waktu tempuh kurang lebih 10 sampai 12 jam. dua alternatif jalur tersebut yang sering dijadikan pedoman untuk para pendaki yang akan melakukan pendakian ke gunung agung.

Awal perjalananku dimulai dari hari sabtu jam 2 siang berkumpul di kantor BO untuk menunggu teman-teman dari balioutbound yang lain dateng. sekitar jam 4 sore kami ber 22 orang melakukan perjalanan menuju selat karangasem dan tentunya breifing dari senior-senior pendaki sudah terlebih dahulu dibacakan sebelum berangkat. jam 7 malem kami sampai pada parkiran pura pasar agung yang sebelumnya diisi acara makan malam di daerah sebelum naek kepura.
Dari parkiran sampai kepura kita sudah disuguhi dengan menaiki anak tangga yang menurutku sangat lumayan untuk pemanasan sebelum naek kepuncak gunung agung. entah berapa jumlah anak tangga yang dinaiki, tapi seleksi kecil ini sudah membuat beberapa rekan ngos-ngosan untuk sampai kewantilan pura pasar agung.

Setelah kurang lebih menunggu 2 jam rekan yang berangkat belakangan, akhirnya jam 10 malam kami lalui perjalanan menuju puncak gunung dengan menyusuri jalan dibelakang pura pasar agung. rombongan terlihat kompak dengan saling memberi semangat rekan-rekan yang lain ketika mereka kelelahan. sampai akhirnya kami berhenti pada tempat yang dinamakan telaga mas (bendungan penampugan air) untuk melepas lelah dan sedikit membuka perbekalan.

Perjalanan dilanjutkan kembali setelah kami istirahat dan melepas lelah di telaga mas. tak lupa waktu istirahat ada rekan yang kebetulan ulang tahun dan tentunya seremonial guyuran air akan tetap dilaksanakan meskipun tidak se-ember. he.he.. (Happy Birthday mas Bambang…)
Hampir 1,5 jam kami berjalan, rombongan 25 orang mulai terpecah menjadi bagian depan, tengah dan belakang. bagian depan dihuni oleh beberapa rekan yang akhirnya bisa menikmati sunrise diatas gunung agung. sedangkan rombongan tengah akhirnya kembali turun untuk bergabung dengan rekan yang lain menunggu di puncak palsu kalau rekan-rekan tersebut bilang.

Aku sendiri dengan sisa-sisa tenaga akhirnya sampai diatas dan langsung mengeluarkan camera untuk session photo-photo yang tak lupa terdiam sejenak untuk mensyukuri karunia beliau yang maha agung ini.

Pemandangan diatas kalau aku bilang sungguh luar biasa bagusnya untuk ukuran newbie yang baru naik  kegunung agung. kearah timur kita bisa melihat gugusan gunung rinjani menjulang dengan gagahnya. begitu juga ketika mata beralih ke barat, deretan gunung abang,batur dan sekitarnya meyajikan lukisan alam yang sangat enak bagi mata.

Kurang lebih 1 jam kami diatas dan langsung dilanjutkan untuk turun gunung kembali ke wantilan pasar agung.
Dikarenakan mengejar biar tidak terkena matahari yang lumayan terik, kami menuruni gunung dengan sedikit ngebut. rombongan tengah dan belakang yang masih tertidur kami tinggalkan dengan tujuan lelah yang dipundak ini agar lebih cepat habis ketika kami sampai dibawah.

Dengan kuasa beliau akhirnya kami (Arie,Amik,Irfan,Taufik,Heru,Cobain,Komang,Ester,Sabina,Tereska,..) sampai dibawah dengan selamat diikutin satu jam setelahnya oleh rombongan dari bagian belakang. berkemas-kemas dan mata sedikit terkantuk-kantuk kami berangkat balik kedenpasar dengan perasaan bangga dan kagum yang tiada tara untuk sebuah kenikmatan dari mendaki gunung agung.

Mengenai Mendaki Gunung Agung.

Persiapan Mendaki :

  • Fisik & Mental : Ini merupakan bagian yang paling utama untuk menjaga agar kita fit dalam mendaki. mungkin dengan berolahraga rutin 2 atau tiga minggu sebelum mendaki akan sangat membantu fitalitas anda mendaki.
  • Perlengkapan : tools-tools dan kelengkapan yang memungkinkan mendukung kita dalam mendaki.
    – Jaket = daerah pegunungan identik dengan dingin. jadi persiapkan jaket yang nyaman dan bisa membikin kita hangat.
    – Sepatu = membantu kenyamanan kaki dalam mendaki dan mengurangi dingin. lebih cocok ditambah kaos kaki jika memakai sepatu. 😀
    – Baju ganti = hanya jaga-jaga jikalau kena hujan atau basah disebabkan oleh rekan yang ngiler ketika tidur.
    – Senter / Penerangan = salah satu alat vital yang dibutuhkan ketika kita ingin mendaki pada malam hari. usahakan spare batere juga cukup.
    – Jas Hujan = Hanya jaga-jaga kalau tiba-tiba cuaca tidak bersahabat dan menurunkan hujan.
    – Sarung Tangan = Anda yang tidak kuat dingin, sarung tangan ini akan sangat membantu menahan dingin disekitar telapak tangan anda.
    – P3K = Lengkapi dengan obat-obatan yang kira-kira diperlukan. spt (obat gosok untuk kaki kram,obat merah,perban)
    – Sleeping Bag = Bila anda memerlukannya untuk menambah kehangatan, perangkat ini sangat anda perlukan.
    – Kompor & Peralatan Masak Mini = Jaga-jaga jikalau anda memerlukan ransum yang memerlukan dimasak spt air panas, mie instan,dll…
  • Bekal Perjalanan :
    – Makanan = bawalah secukupnya untuk memberi asupan energi selama perjalanan (roti,buah,snack,dll.).
    – Minuman = Ini yang paling penting. beberapa pendaki meremehkan air ketika mereka beranggapan bahwa hutan tropis pasti ada sumber mata air. padahal
    untuk ukuran gunung agung, sumber mata air sangat sedikit dan jarang. mendingan anda bawa perbekalan air yang cukup untuk mendaki.
    saya sendiri membawa dua botol besar dan dua botol kecil air mineral. sesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan anda.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mendaki

  1. Dibali unsur adat sangat kental dalam kehidupan spiritual beragama. Diusahakan untuk tidak mendaki ketika ada kegiatan upacara agama di Pura Besakih ataupun di Pura Pasar Agung. hal ini mungkin untuk menjaga kesucian gunung agung sendiri dimana pura-pura tersebut berada ditempat lebih rendah dari tempat pendakian.
  2. Cuaca harus menjadi Prioritas utama dalam keselamatan mendaki. apabila musim hujan atau musim-musim yang tidak memungkinkan untuk mendaki, lebih baik diurungkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. medan mendaki terdiri dari batu-batu yang tentunya akan lebih licin dari biasanya.
  3. Untuk wanita yang sedang datang bulan, diwajibkan untuk tidak mendaki. ingat… bahwa orang bali sangat menghormati dan menjunjung tinggi mengenai kesucian gunung agung dan areal sekitarnya. dan kita tahu sendiri mengenai mitos orang yang lagi datang bulan dianggap lagi kotor dan tentunya kalau dipaksakan akan berakibat kurang baik bagi seorang pendaki. (mohon untuk tidak percaya ini…)
  4. Disarankan untuk tidak membawa makanan atau minuman yang berbau sapi. entah ini atas dasar apa, tapi masyarakat bali percaya bahwa hal ini juga sangat-sangat menjadi pantangan bagi seorang pendaki di daerah bali.
  5. Ada celetukan untuk mendaki dalam jumlah ganjil. tapi aku sendiri masih tidak percaya untuk hal ini. prinsipku kalau kita sendirian, tentunya masih akan ada tuhan yang akan selalu bersama kita. jadi hal tersebut aku anggap genap… he.he.he..

Absent Peserta :
Arie
Aim
Adip
Andri
Anis
Amik
Arip Yulianto
Bambang bapake Angga
Baskoro
Cobain
Ceska
Didi Purwadi
Ester
Giri Prastowo
Heru
Ivant
Komang
Noviar M Sugandha
Pondal I Kadek
Ratna
Sabina
Sidharta I Ketut
Taufik
Tereska
Yanuar

Others Story :

1. by Arie
2. by Bali Outbound
3. by Giri
4. by Andri
5. by Irfan Affandi
6. by Hendra WS

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

23. June 2008 by Me My Self
Categories: Baliku | Tags: , , , , | 32 comments

Comments (32)

  1. Pingback: .:. F u n k y L o v e .:. » Saran buat ultahku, plis…

Leave a Reply

Required fields are marked *


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.