<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>I Md Yanuarta DPY &#187; Religi</title>
	<atom:link href="http://yanuar.kutakutik.or.id/category/religi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yanuar.kutakutik.or.id</link>
	<description>My Place to start the World..!!!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 08:05:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ibu Pertiwi</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/ibu-pertiwi/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/ibu-pertiwi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 09:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[ibu pertiwi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/ibu-pertiwi/</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di alam ini mau-tak-mau kita harus mempelajarinya, harus belajar tentangnya. Sekurang-kurangnya, kita diharuskan untuk belajar tentang kaidah-kaidahnya yang berkaitan langsung dengan kehidupan kita. Alam sendiri, sebetulnya tidak berkepentingan atas hal itu. Ia tak peduli, apakah kita mau mempelajarinya atau tidak. Ia tak akan menghukum siapapun melalui hukum-hukum fisikanya. Hukum-hukum itu hanyalah mekanisme kerjanya, bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent"><a href="http://yanuar.kutakutik.or.id/wp-content/uploads/2007/11/pinang.jpg" rel="lightbox" title="pinang.jpg"><img src="http://yanuar.kutakutik.or.id/wp-content/uploads/2007/11/pinang-tn.jpg" style="BORDER-RIGHT: rgb(0,128,0) 2px solid; BORDER-TOP: rgb(0,128,0) 2px solid; DISPLAY: inline; FLOAT: left; BORDER-LEFT: rgb(0,128,0) 2px solid; WIDTH: 150px; MARGIN-RIGHT: 10px; BORDER-BOTTOM: rgb(0,128,0) 2px solid; HEIGHT: 200px" name="urn:zoundry:jid:pinang.jpg" title="pinang.jpg" height="200" width="150" alt="pinang.jpg" border="0" id="urn:zoundry:jid:pinang.jpg"/></a>Hidup di alam ini mau-tak-mau kita harus mempelajarinya, harus belajar tentangnya. Sekurang-kurangnya, kita diharuskan untuk belajar tentang kaidah-kaidahnya yang berkaitan langsung dengan kehidupan kita. Alam sendiri, sebetulnya tidak berkepentingan atas hal itu. Ia tak peduli, apakah kita mau mempelajarinya atau tidak. Ia tak akan menghukum siapapun melalui hukum-hukum fisikanya. Hukum-hukum itu hanyalah mekanisme kerjanya, bagaimana ia mengatur dirinya sendiri beserta segenap makhluk hidup di dalamnya dalam disiplin tinggi. Kitalah yang berkepentingan sekali akan hal itu.</span></p>
<p style="TEXT-ALIGN: left"><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Tidak bisa melihat kalau kitalah yang berkepentingan untuk mempelajarinya, sehingga kita tidak mempelajarinya, kita sendirilah yang rugi. Jangankan untuk bisa menerima manfaat daripadanya, tidak mempelajarinya, sehingga tidak tahu kaidah-kaidahnya dan bagaimana untuk menjadi selaras dengannya, kita sendirilah yang akan selalu diancam bencana.</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Ibu Pertiwi sebetulnya amat sangat penyabar, amat sangat pemaaf, amat sangat pemurah, amat sangat adil. Beliau tak akan pernah menghukum putra-putrinya yang manapun. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum terjadinya suatu bencana, dengan caranya sendiri, Ibu Pertiwi telah memberi peringatan-peringatan kepada kita. Kalaupun pada akhirnya kita tetap ditimpa bencana, maka itu hanya lantaran kita sendiri yang tidak mengindahkan peringatan-peringatan yang telah diberikan. Makanya, kalaupun mesti ada sesuatu yang dipersalahkan atas setiap bencana yang terjadi, maka itu adalah kebodohan, keteledoran, kesombongan dan keangkuhan kita sendiri. Merasa diri sebagai makhluk cerdas, makhluk berakal-budi, kita merasa punya kuasa penuh terhadap alam, berikut segenap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Bahkan, tak sedikit di antara kita yang merasa mendapat mandat penuh dari Tuhan untuk menjadi penguasa dan penakluk alam, hanya lantaran kitab-kitab kuno -bikinan manusia sendiri-menyebutkan demikian. Alangkah takaburnya bukan?</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Alih-alih bersyukur dan berterimakasih telah diterima sebagai sekelompok putra-putrinya, dipelihara dan dihidupi, disediakan segala kebutuhan, dengan angkuh dan semena-menanya kita mengobrak-abrik alam, mengeksploitasinya habis-habisan hingga batas-batas kritis yang malah membahayakan kelangsungan hidup kita sendiri.</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Sebagai putra-putri terkasih dari Ibu Pertiwi, tak pernah terbersit di benak kita untuk menghormatinya, mengasihinya seperti beliau mengasihi kita dan segenap leluhur dan keturunan umat manusia, walaupun -kalau mau hitung-hitungan- kita samasekali tidak layak untuk mendapatkan semua itu.</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Agaknya jelas kalau akal-budi dianugrahkan kepada umat manusia bukanlah sekedar untuk mengeksploitasi alam dan makhluk hidup lainnya, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri. Sang Penganugrah-nya tentu punya rencana yang sudah teramat matang dan arif akan hal itu. Kita yang bodoh namun congkaklah yang tidak mengetahuinya, tidak menyadarinya.</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Kalau saja kita mau sedikit rendah-hati dan mau belajar dari Ibu Pertiwi, bukan saja beliau akan dengan senang-hati menerima kita sebagai siswa-siswinya, Ibu Pertiwi akan membukakan banyak rahasia-rahasianya kepada kita, kepada putra-putri terkasih dan tersayangnya. Seperti yang sudah-sudah, melalui pengungkapan rahasia-rahasianya, Ibu Pertiwi bukan saja akan menunjukkan jalan keselamatan kepada kita, namun juga limpahan kesejahteraan dan kemakmuran hidup.</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Oh Ibu Pertiwiku&#8230;..</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Engkaulah wakil Bapa di Semestaraya. Melalui kandungan-Mulah segenap makhluk hidup dilahirkan;</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Melalui kandungan-Mu jualah segenap galaksi, tata-surya, matahari, bintang, bulan, dan segenap benda-benda langit yang bercahaya terlahir. Dengan penuh kasih Engkau mendekap kami di dada-Mu, Mengasuh dan memelihara kami di pangkuan-Mu. Walaupun aku tahu Engkau selalu memaafkan kami, Terimalah permohonan maaf kami untuk kesekian kalinya ini.</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Maafkanlah putra-putri-Mu yang bodoh tapi angkuh ini, yang penuh kealpaan namun sombong ini. Terimalah sekali lagi sembah-sujud kami seperti Engkau selalu menerima sebelumnya.</span></p>
<p><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Oh Ibuku terkasih&#8230;..</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Ajarilah kami bagaimana bersabar,</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Bagaimana memaklumi dan memaafkan,</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Bagaimana mengasihi dan menyayangi.</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Bagikanlah lagi kepada kami ketabahan-Mu yang tiada</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">tara.</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">Ijinkan dan bimbinglah kami untuk kelak kembali lagi</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">ke pangkuan-Mu, ke dalam dekapan-Mu dan Bapaku dalam</span><br /><span style="FONT-SIZE: 12px; COLOR: #000000; FONT-FAMILY: 'Courier New'; BACKGROUND-COLOR: transparent">damai.</span></p>
<p>NR</p>
<p class="zoundry_bw_tags">
  <!-- Tag links generated by Zoundry Blog Writer. Do not manually edit. http://www.zoundry.com --><br />
  <span class="ztags"><span class="ztagspace">Technorati</span> : <a href="http://technorati.com/tag/alam" class="ztag" rel="tag">alam</a>, <a href="http://technorati.com/tag/doa" class="ztag" rel="tag">doa</a>, <a href="http://technorati.com/tag/ibu%20pertiwi" class="ztag" rel="tag">ibu pertiwi</a>, <a href="http://technorati.com/tag/tradisi" class="ztag" rel="tag">tradisi</a></span> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/ibu-pertiwi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selalu Mencoba</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/selalu-mencoba/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/selalu-mencoba/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2007 07:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/selalu-mencoba/</guid>
		<description><![CDATA[Hanya dengan mendengar dan melihat, pemahaman mengenai sesuatu itu menjadi lebih masuk dan mengena, hanya dengan merubah sesuatu menjadi tidak biasa, akan membuat sesuatu itu menjadi terbiasa. hal yang terbiasa dilakukan beberapa tahun lalu, akhir-akhir ini menjadi beberapa pemahaman yang diberikan lewat ladang hati dengan benih-benih pikiran yang baik, beserta dipenuhi dengan kerendahan hati dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya dengan mendengar dan melihat, pemahaman mengenai sesuatu itu menjadi lebih masuk dan mengena, hanya dengan merubah sesuatu menjadi tidak biasa, akan membuat sesuatu itu menjadi terbiasa.<br />
hal yang terbiasa dilakukan beberapa tahun lalu, akhir-akhir ini menjadi beberapa pemahaman yang diberikan lewat ladang hati dengan  benih-benih pikiran yang baik, beserta dipenuhi dengan kerendahan hati dan tidak lupa dengan menyirami dengan air cinta kasih. sehingga ladang hati menjadi tunas yang pada akhirnya harus dilindungi dengan obat pembunuh hama yang sering disebut keteguhan hati, tidak lupa akan pupuk yang disebut konsentrasi sehingga tanaman bhakti akan menghasilkan panen pengetahuan rohani berupa kebijaksanaan abadi bahwa kamu adalah Dia dan bila wahyu itu turun kamu akan menjadi Dia karena pada hakekatnya kamu adalah Dia meskipun sedemikian jauh kamu tidak mengetahuinya.</p>
<p><strong>Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/selalu-mencoba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin Kehidupan</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/cermin-kehidupan/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/cermin-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2006 03:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/2006/10/03/cermin-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan kehidupan, bisa kita amati adanya tiga tipe manusia, yaitu: yang â€˜menghadapi kehidupanâ€™, yang â€˜menjalani kehidupanâ€™, dan yang â€˜menghidupi kehidupanâ€™. Tipe yang pertama, yang â€˜menghadapi kehidupanâ€™ menempatkan kehidupan ini sebagai sesuatu yang untuk dihadapi secara frontal, dengan gagah-berani, dengan menyingsingkan lengan-baju dan memasang kuda-kuda. Baginya, kehidupan adalah sebuah tantangan, pergumulan, perjuangan bahkan pertempuran tiada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehubungan dengan kehidupan, bisa kita amati adanya tiga tipe manusia, yaitu: yang â€˜menghadapi kehidupanâ€™, yang â€˜menjalani kehidupanâ€™, dan yang â€˜menghidupi kehidupanâ€™.</p>
<p>Tipe yang pertama, yang â€˜menghadapi kehidupanâ€™ menempatkan kehidupan ini sebagai sesuatu yang untuk dihadapi secara frontal, dengan gagah-berani, dengan menyingsingkan lengan-baju dan memasang kuda-kuda. Baginya, kehidupan adalah sebuah tantangan, pergumulan, perjuangan bahkan pertempuran tiada henti. Dan oleh karenanya, mereka harus kuat, harus tabah, harus cerdik, sebab bila tidak, mereka bisa saja digilas habis oleh kehidupan ini. Menghadapi kehidupan sebagai â€˜musuhâ€™ yang harus ditundukkan seperti ini, dengan sendirinya mereka menganut pola kalah-menang ataupun pola untung-rugi. Mereka merasakan hanya ada dua kemungkinan dalam kehidupannya: memenangkannya, atau dikalahkannya. Oleh karenanya, mereka tampak sangat dinamis, bersemangat, penuh vitalitas, sehingga hampir selalu meletup-letup dan berkobar-kobar.</p>
<p>Tipe kedua, yang â€˜menjalani kehidupanâ€™, menempatkan kehidupan ini sekedar sebagai sesuatu yang mesti dijalani. Tidak seperti yang sebelumnya, mereka tidak mengenal pola kalah-menang. Mereka tidak menempatkan kehidupan sebagai â€˜musuhâ€™ yang harus dihadapi, melainkan sekedar untuk dijalani, dilangsungkan. Mereka inilah yang mungkin memperdengarkan slogan hidupnya sebagai â€˜mengalir di dalam sungai kehidupanâ€™, â€˜pasrah di dalam menjalani kehidupanâ€™, atau yang sejenis itu. Mereka cenderung menyelaraskan-dirinya dengan derap-langkah dan irama dari kehidupan itu sendiri, sehingga tampak harmonis dengan kehidupan. Baginya, tidak ada yang menantang pun yang perlu ditantang. Sebagai kontras dari yang sebelumnya, mereka hanya mengikuti kemanapun aliran kehidupan membawanya; tanpa penolakan pun pengharapan muluk-muluk, sehingga mereka bisa menerima kehidupan â€˜seperti apa ia adanyaâ€™. Oleh karenanya mereka cenderung kelihatan adem-ayem, loyo, tenang, bahkan bisa kelihatan tanpa gairah-hidup.</p>
<p>Tipe yang ketiga, yang â€˜menghidupi kehidupanâ€™, memposisikan kehidupan di antara kedua tipe sebelumnya. Mereka tidak menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang untuk dijalani pun dihadapi, melainkan dihidupi. Oleh karenanya, mereka terkadang bisa kelihatan menggebu-gebu, penuh semangat dan vitalitas, dan terkadang bisa kelihatan adem-ayem, tanpa gairah-hidup, walaupun sebetulnya mereka penuh penghayatan akan kehidupannya pun bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Kebanyakan hari-hari mereka, mereka lalui dalam keheningan. Mereka, terdiri dari para bijaksanawan, rokhaniawan, ataupun para muliawan. Dan oleh karenanyalah pantas buat â€˜di-guru-kanâ€™. Yang seperti ini, memang sudah kian langka di dunia.</p>
<p>Nah&#8230;.sekarang, bila kita â€”Anda dan sayaâ€” mencoba memberanikan diri berdiri di depan â€˜cermin kehidupanâ€™ ini, kita ini tergolong tipe mana? Yang pertama, kedua ataukah ketiga? Bagaimana wajah kita di depan cermin ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/cermin-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sembah yang Sesungguhnya</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/sembah-yang-sesungguhnya/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/sembah-yang-sesungguhnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 03:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/2006/09/26/sembah-yang-sesungguhnya/</guid>
		<description><![CDATA[Endi ingaran sembah sejati aja nembah yen tan katingalan temahe kasor kulane yen sira nora weruh kang sinembah ing dunya iki kadi anulup kaga punglune den sawur manuke mangsa kenaa awekasa amangeran adam sarpin sembahe siya-siya//]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Endi ingaran sembah sejati<br />
aja nembah yen tan katingalan<br />
temahe kasor kulane<br />
yen sira nora weruh<br />
kang sinembah ing dunya iki<br />
kadi anulup kaga<br />
punglune den sawur<br />
manuke mangsa kenaa<br />
awekasa amangeran adam sarpin<br />
sembahe siya-siya// </p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/sembah-yang-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SPIRITUALISME BUKAN SPIRITISME</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/spiritualisme-bukan-spiritisme/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/spiritualisme-bukan-spiritisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jun 2006 06:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Life]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/archives/2006/06/29/spiritualisme-bukan-spiritisme/</guid>
		<description><![CDATA[Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktek-praktek yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang berangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktek-praktek yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang berangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya.</p>
<p>Spiritualisme di dalam filsafat adalah sebentuk karakteristik dari sistem pemikiran manapun yang meyakini eksistensi dari realitas immaterial yang tak bisa dicerap oleh indria. Didefinisikan seperti itu, spiritualisme jadi melingkupi cakupan di dalam berbagai pandangan filosofis yang luas. Makanya, dualisme dan monisme, theisme dan atheisme,pantheisme, idealisme, dan banyak posisi filosofis lainnya juga dikatakan bersesuaian dengan spiritualisme, sejauh mereka juga beranggapan bahwa realitas ini bebas dan bersifat superior ketimbang materi.</p>
<p>Berbeda dengan spiritualisme, spiritisme merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme &#8220;yang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwa&#8221;, dan dinamisme &#8220;yang percaya bahwa ada manifestasi-menifestasi dari kekuatan tertentu dibalik semua dinamika semesta dan fenomena-fenomena alam&#8221;. Pengaruh dari kedua cikal-bakal spiritisme ini terasa sangat kuat di kalangan masyarakat primitif.<br />
&#8216;Berjiwa&#8217; disini lebih dimaksudkan sebagai punya kekuatan &#8220;baik kasat indria maupun tidak&#8221; seperti kekuatan untuk penyembuhan, kekebalan, tenaga-dalam dan hal-hal yang bersifat kanuragan sampai yang bernuansa klenik lainnya. Betapapun tampak hebatnya kekuatan yang dimaksud, ia selalu mengandung pengertian dan mengarah pada materi atau dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat materialistik dan ragawi.<br />
Bagi penganutnya, segala sesuatunya hanya bisa disebut nyata ada bila bisa dimaterialisasikan dan kasat-indria. Bila tidak, ia tak nyata. Bagi mereka hanya realitas material-lah yang ada.</p>
<p>Sayangnya, kedua istilah &#8216;yang berbeda secara diametrikal&#8217; ini seringkali dikacaukan orang. Teramat sering kita saksikan kalau hal-hal yang sebetulnya merupakan bagian dari spiritisme disebut sebagai spiritualisme. Sementara acara televisi dan pembicara serta penlis di media-massa lain punya andil besar terhadap kekacauan atau salah-kaprah ini. Sedihnya lagi, kesalah-kaprahan ini malah sudah menjangkiti sementara kalangan terdidik.</p>
<p>Ditinjau dari tiga sifat dasar makhluk hidup triguna), spiritisme cenderung tergolong pada sifat rajas (aktif, ambisius, dinamis, agresif) dan tamas (pasif, lembam, inersia, gelap); sedangkan spiritualisme cenderung sattvam (proaktif, kalem, seimbang, jernih). Kalau spiritisme sangat eksternalistis, maka spiritualisme lebih bersifat internalistis. Pencarian spiritisme mengarah ke luar diri, sedangkan pencarian spiritualisme mengarah ke dalam diri.</p>
<p><tags> spiritual, spiritualisme, <tags /></tags></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/spiritualisme-bukan-spiritisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna &#8221;Banten&#8221; bagi Umat Hindu</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/makna-banten-bagi-umat-hindu/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/makna-banten-bagi-umat-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2005 03:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Life]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Makna &#8221;Banten&#8221; bagi Umat Hindu Upakara yang dikatakan di Bali sebagai banten, pada banten disebut sebagai Bali. Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro, Tegallalang, Gianyar). Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara. Mula-mula terbatas kepada para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Comic Sans MS" size="3"></font><font face="Comic Sans MS" size="4"></p>
<h1 style="font-size: 100%; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px;">
Makna &#8221;Banten&#8221; bagi Umat Hindu</h1>
<p></font></p>
<p><font face="Comic Sans MS" size="2"><span name="Konabody">Upakara yang<br />
dikatakan di Bali sebagai banten, pada banten disebut sebagai Bali. Dalam<br />
Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya<br />
membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro, Tegallalang, Gianyar).<br />
Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara.<br />
Mula-mula terbatas kepada para pengikutnya. Lama-kelamaan berkembang ke penduduk<br />
lain di sekitar Desa Taro. Apakah filosofi banten bagi umat Hindu? Apa itu<br />
banten jika ditinjau dari sudut sastra agama? </p>
<p>================================================<br />
Menurut Ketua Umum PHDI Kabupaten Buleleng Ida Pandita Sri Bhagawam Dwija Warsa<br />
Nawa Sandhi, jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air,<br />
dan api disebut Bali, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan<br />
menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang<br />
dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro. </p>
<p>Lama-kelamaan ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau,<br />
sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali (pulau yang dihuni oleh orang-orang<br />
Bali-red). Lebih tegas lagi, pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan<br />
dengan menggunakan sarana upakara (Bali). Tradisi beragama dengan menggunakan<br />
banten. Selanjutnya dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti Mpu Sangkulputih,<br />
Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sejak kapan<br />
sarana upakara itu berubah nama dari Bali menjadi Banten dan mengapa demikian,<br />
sulit mencari sumber sastranya? Menurutnya, beberapa sulinggih dihubungi ada<br />
yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten, mengalami perubahan dari<br />
kata wantu atau bantu. Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga<br />
timbul pengertian bahwa Bali atau banten adalah niyasa atau simbol keagamaan.<br />
<br />
<span id="more-135"></span><br />
<br />
Menurut Ketua III Paruman Pandita PHDI Propinsi Bali ini, umat Hindu<br />
melaksanakan ajaran agamanya antara lain melalui empat jalan atau cara (marga).<br />
Keempat cara itu yakni Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Raja Marga.<br />
Bhakti Marga dan Karma Marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim<br />
disebut sebagai Apara Bhakti. Tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar<br />
diri masing-masing dilaksanakan Jnana Marga dan Raja Marga yang disebut sebagai<br />
Para Bhakti. </p>
<p>Dikatakan, pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak<br />
menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara<br />
lainnya. Seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol<br />
lainnya berkurang. Umumnya di Bali, keempat marga itu dilaksanakan sekaligus<br />
dalam bentuk upacara agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri atas<br />
bahan pokok daun, bunga, buah, air dan api. Sarana-sarana mempunyai fungsi<br />
persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi. Sebagai alat konsentrasi<br />
memuja Hyang Widhi. Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya. Sebagai<br />
alat penyucian. </p>
<p>Oleh karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya Prakerti<br />
disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi<br />
kepada siapa banten itu akan dihaturkan atau dipersembahkan. Dalam buku Kesatuan<br />
Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang<br />
disahkan PHDI disebutkan, seorang tukang banten hendaknya sudah menyucikan diri<br />
dengan upacara pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban bebangkit). </p>
<p>Lebih lanjut Ketua PHDI Bulelang ini mengatakan, tujuan penyucian agar tukang<br />
banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten.<br />
Misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan<br />
mempersembahkannya kepada Hyang Widhi. Di kala membuat banten, kesucian dan<br />
kedamaian hati tetap terjaga. Misalnya, tidak mengeluarkan kata-kata kasar.<br />
Tidak dalam keadaan kesal atau sedih. Tidak sedang cuntaka, tidak sedang<br />
berpakaian yang tidak pantas. Menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten<br />
di sembarang tempat. </p>
<p>Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral,<br />
konsentrasi penuh, rasa bakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah<br />
ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten<br />
disebut Pensucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang<br />
tidak berkepentingan. Bahkan, dewasa atau hari baik untuk memulai membuat banten<br />
ditetapkan dengan teliti oleh para sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten<br />
juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam atau dipegang oleh<br />
anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka. </p>
<p>Dikatakan, beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh sang<br />
Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg gumi. Untuk menegaskan penting dan<br />
sakralnya banten, Mpu Jiwaya &#8212; salah seorang tokoh pemimpin agama pada abad<br />
ke-10 &#8212; mengajarkan membuat reringgitan dengan bahan daun kelapa, anau atau<br />
lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus<br />
penuh. &#8221;Jika tidak, bisa reringgitan-nya rusak atau tangannya yang teriris<br />
pisau,&#8221; katanya. Ditambahkan, makna membuat banten seperti yang dikemukakan di<br />
atas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bakti dan kasih sayang kepada<br />
Hyang Widhi. </p>
<p>Sesuaikan dengan Kondisi Zaman </p>
<p>Bagaimana dengan di zaman Kali ini? Menurut Ida Pedanda Sri Bhagawan Dwija Warsa<br />
Nawa Sandhi, zaman beredar dan kini kita hidup di era milenium. Kemampuan kita<br />
menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai<br />
masalah. Misalnya, kelangkaan bahan-bahan baku banten. Waktu yang terbatas untuk<br />
membuat banten. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri. </p>
<p>Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten, katanya, sudah dimaklumi, karena<br />
busung, pisang, kelapa, telur, bebek dan ayam, tidak sedikit yang sudah<br />
didatangkan dari luar Bali (Sulawesi, Lombok dan Jawa). Waktu yang terbatas bagi<br />
umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian<br />
besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya nunas<br />
puput. </p>
<p>Dikatakan, generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran<br />
agama Hindu (di Bali) dalam bentuk ritual atau upacara menjadi sangat sulit dan<br />
mahal. &#8221;Model&#8221; umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini<br />
terlihat sudah lumrah seperti sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas<br />
ayaban di geria lengkap dengan sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis<br />
walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat<br />
banten hilang. </p>
<p>Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya, agaknya hal<br />
yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten. Apalah artinya<br />
banten jika sang yajamana tidak mengerti makna banten yang dipersembahkan kepada<br />
Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orangtua kita, tetapi<br />
ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan kepada orangtuamu? Jawabannya,<br />
ya&#8230; enggak tahu tuh. Aneh kan? </p>
<p>Fenomena seperti itu, katanya, akan terus berkembang. Lebih-lebih bilamana dalam<br />
suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya<br />
mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak. Konsep-konsep<br />
Manawa Dharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara<br />
suami dan istri banyak tidak berlaku lagi. </p>
<p>Suami mestinya menghidupi keluarga, dan istri mestinya mengurus rumah, terutama<br />
masalah panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten. Adakah jalan keluar<br />
menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu<br />
dikemukakan. Dalam banyak kitab suci antara lain Manawa Dharmasastra, Parasara<br />
Dharmasastra disebutkan bahwa cara kita beragam, di setiap zaman tidaklah sama.</p>
<p>* Suentra <br />
Balipost 7 Agustus 2002</span></font><br />
</p>
<p><tags>banten,hindhu,upakara</tags></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/makna-banten-bagi-umat-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Dosa dan Jasa</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/menghitung-dosa-dan-jasa/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/menghitung-dosa-dan-jasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2005 06:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Life]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Menghitung Dosa dan Jasa BERBUAT jasa dan dosa bagi umat manusia di dunia ini merupakan suatu kenyataan yang tidak mungkin dihindari. Tidak ada manusia yang dalam hidupnya ini hanya berbuat jasa saja atau sebaliknya hanya melakukan dosa melulu. Keduanya itu pasti pernah dilakukan. Meskipun umumnya berbuat jahat yang membawa dosa itu sering dilakukan tidak disengaja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghitung Dosa dan Jasa</p>
<p>BERBUAT jasa dan dosa bagi umat manusia di dunia ini merupakan suatu kenyataan yang tidak mungkin dihindari. Tidak ada manusia yang dalam hidupnya ini hanya berbuat jasa saja atau sebaliknya hanya melakukan dosa melulu. Keduanya itu pasti pernah dilakukan. Meskipun umumnya berbuat jahat yang membawa dosa itu sering dilakukan tidak disengaja. Atau karena kemampuan mencegah perbuatan dosa sangat lemah. Perbuatan dosa umumnya timbul dari gejolak nafsu yang tidak terdidik. Kalau nafsu itu sering dilatih untuk patuh pada pikiran dan kesadaran budhi maka berbuat dosa itu akan dapat dipersedikit. Setidak-tidaknya kadar intensitas dosa itu dapat lebih diturunkan. Namun, untuk sama sekali tidak melakukan dosa mungkin pada zaman Kali ini sesuatu yang merupakan impian belaka.<br />
<span id="more-118"></span><br />
Berbuat jasa umumnya selalu diniatkan orang. Karena itu dalam tradisi kearifan lokal Bali ada istilah &#8221;sing ada anak matapa jelek&#8221;. Artinya, tidak ada orang meniatkan sesuatu yang tidak baik. Setiap orang dalam hidupnya ini pasti berharap dapat berbuat jasa. Karena manusia yang lahir ke dunia ini penuh dengan keterbatasan maka apa yang diharapkan tidak persis ia mampu wujudkan dalam praktik kehidupannya.</p>
<p>Dilikuidasinya Bank Dagang Bali dan sebelumnya Bank Aken, Bank Pelita Kencana, Bank Pasar Ratnadi, Bank Sadar, dan Bank Perniagaan Umum yang pindah kepemilikannya dari pengusaha orang Bali (Hindu) ke pengusaha luar Bali, semuanya itu patut menjadikan orang Bali menarik napas panjang. Kita perlu melihat peristiwa itu secara jernih dengan daya nalar yang tinggi. Tidak hanya memandangnya secara emosional, apalagi menertawakannya. Peristiwa tersebut patut kita lihat menurut cara pandang ajaran Hindu yang disebut rwa bhineda. Apa jasa dan apa pula dosa dari pengusaha yang mengoperasikan semua bank milik putra Bali tersebut. Jasa dan dosanya patut &#8221;dihitung&#8221; secara adil dan ilmiah. Hasil hitung-hitungan itu patut dicatat dengan sebaik-baiknya untuk dijadikan guru bagi kita semuanya.</p>
<p>Pengalaman baik dan buruk kalau kita hadapi dengan tenang dan tawakal semuanya akan menjadi guru yang baik. Orang tua menyatakan, &#8221;pengalaman adalah guru yang paling berguna.&#8221; Segala jasa yang pernah dibuat oleh pengelola semua bisnis keuangan tersebut patut juga dicatat dan diingat secara jujur dan adil. Demikian juga berbagai kelemahan, kesalahan dan mungkin dosa yang terjadi juga patut dicermati untuk dicatat dengan baik. Selanjutnya diupayakan jangan sampai diulangi oleh orang lain atau generasi selanjutnya.</p>
<p>Jasa dan dosa tersebut patut kita jadikan cambuk untuk membuat kita makin dewasa. Janganlah kita bertahyul bahwa orang Bali tidak berbakat menjadi pengusaha sukses. Mari kita buang tahyul seperti itu. Cuma, membuang tahyul seperti itu tidaklah mudah. Lebih-lebih mereka yang sikap hidupnya telanjur dibelenggu oleh adat yang keliru. Adat itu seolah-olah takdir yang tidak bisa diubah dan dihindari. Kalau sikap hidup tersebut dapat kita ubah menjadi sesuai dengan ajaran Hindu, perubahan dapat dilakukan melalui karma yang baik. Tanpa melakukan karma yang baik Tuhan tidak akan mengubah dengan sendirinya nasib kita. Cuma karma baik itu adalah karma yang didasari oleh Jnyana dan Bhakti. Maksudnya berkarma itu hendaknya dengan dasar pengetahuan yang dalam tentang apa yang dikerjakan. Hal itu dilakukan sebagai makhluk ciptaan Tuhan sebagai wujud bhakti kepada Tuhan.</p>
<p>Karma harus didasari oleh Jnyana. Jnyana adalah ilmu pengetahuan. Ini berarti melakukan bisnis jangan sampai tanpa pengetahuan mengenai bisnis bersangkutan. Setiap bidang usaha memiliki ilmunya masing-masing. Seperti melakukan bisnis keuangan dalam bentuk bank, tentunya memerlukan banyak ilmu yang harus dilibatkan dalam mengembangkan bisnis keuangan tersebut. Ini artinya lakukanlah bisnis tersebut menurut ilmunya dan norma-norma yang berlaku untuk bisnis tersebut. Dalam ilmu dan norma-norma hukum itulah akan ditemui berbagai kriteria untuk mengoperasikan suatu usaha yang disebut layak. Kriteria ilmu dan norma hukum positif itulah sebagai salah satu alat untuk mengukur jasa dan dosa beberapa usaha bank yang dilikuidasi.</p>
<p>Ibarat melihat sebuah rapor murid. Angka-angka yang baik dan angka merah janganlah dicampur aduk. Artinya, marilah kita lihat dengan hati yang jernih angka-angka rapor perusahaan yang dilikuidasi. Dari situlah kita rumuskan karma-karma ke depan untuk menjadikan angka yang baik sebagai pengalaman yang harus dijadikan pelajaran. Sedangkan angka-angka merah dijadikan acuan agar jangan sampai terulang pada generasi-generasi selanjutnya.</p>
<p>Sikap jernih seperti ini perlu kita sosialisasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Semua ciptaan Tuhan di dunia ini tidak ada yang mutlak. Dalam reruntuhan usaha bank yang dilikuidasi itu pasti ada hal-hal yang patut kita cermati dan renungkan secara jernih. Jasa-jasanya patut dihargai sebagaimana wajarnya. Dosa-dosanya juga harus diperlakukan secara adil, karena semuanya itu tidaklah berdiri sendiri. Ada dosa karena memang ada niat. Tetapi ada juga karena didorong oleh kesempatan dan kelengahan.</p>
<p><tags>Agama,Hindu,dosa,jasa,</tags></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/all-life/menghitung-dosa-dan-jasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/jatuh-cinta-sebagai-kejadian-spiritual/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/jatuh-cinta-sebagai-kejadian-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2005 05:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual Oleh: Gede Prama Setiap orang pernah jatuh cinta. Umumnya, jatuh cinta itu terjadi pada orang dengan lawan jenis. Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual<br />
Oleh: Gede Prama</p>
<p>Setiap orang pernah jatuh cinta. Umumnya, jatuh cinta itu terjadi pada orang dengan lawan jenis. Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa mewakili seluruh nuansa jatuh cinta.</p>
<p>Biasanya yang lama diingat orang melalui kejadian-kejadian jatuh cinta adalah perasaan-perasaan yang ada di dalam. Memegang tangan pasangan saja membuat jantung berdebar. Melihat matanya yang dibalut senyum bisa membuat terkenang-kenang selamanya. Kata-kata pertama yang menunjukkan lawan jenis kita tertarik dan jatuh cinta pada kita, bisa menjadi satu rangkaian kalimat yang terdengar di telinga setiap hari. Memperhatikan rambut, tata krama, cara berpakaian, cara bicara lawan jenis kita, semuanya tampak pas dan sempurna. Dan pada akhirnya membuat kita seperti memiliki dunia ini seorang diri.<br />
<span id="more-89"></span><br />
Inilah rangkaian hal yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Banyak sudah lagu, film, sinetron, novel, syair, puisi yang lahir dari sumber cinta sebagai perasaan. Kalau kemudian banyak yang memberikan kesan cinta itu cengeng, lemah, tangisan dan sejenisnya, itu hanyalah sepenggal pemahaman tentang cinta sebagai perasaan.</p>
<p>Ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah cinta sebagai perasaan, yakni cinta sebagai sebuah kekuatan (power). Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunungpun rasanya bisa. Hampir tidak ada penugasan dari lawan jenis yang kita cintai yang tidak bisa diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya berteriak : bisa !</p>
<p>Bermula dari pemahaman seperti inilah maka Deepak Chopra dalam The Path To Love, menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan.</p>
<p>Kaum agamawan nan bijaksana menggunakan kekuatan terakhir sebagai sarana untuk bertemu Tuhan. Usahawan yang berhasil menggunakan tenaga maha besar ini untuk menekuni seluruh pekerjaannya. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya. Pekerja yang menyadari kekuatan ini menggunakannya untuk bekerja mencari harta di jalan-jalan cinta. Banyak orang yang dijemput keajaiban karena kemampuan untuk membangkitkan tenaga maha dahsyat ini.</p>
<p>Anda bisa bayangkan, tentara Inggris yang demikian perkasa harus pergi dari India karena kekuatan cinta Mahatma Gandhi beserta pejuang lainnya. Negeri ini dideklarasikan secara amat gagah berani melalui cinta duet Sukarno-Hatta. Demokrasi Amerika berutang amat banyak pada cinta George Washington. Raksasa elektronika Matsushita Electric dibangun di atas tiang-tiang cinta Konosuke Matsushita. Microsoft sampai sekarang masih dipangku oleh kecintaan manusia luar biasa yang bernama Bill Gates. Sulit membayangkan bagaimana seorang Jenderal besar Sudirman bisa memimpin pasukan melawan Belanda dengan badan yang sakit-sakitan, kalau tanpa modal cinta yang mengagumkan. Wanita perkasa dengan nama Kartini mengambil resiko yang demikian tinggi untuk mengangkat derajat kaumnya, apa lagi yang ada di baliknya kalau bukan kekuatan-kekuatan cinta.</p>
<p>Boleh saja Anda menyebut rangkaian bukti ini sebagai serangkaian kebetulan, tetapi saya lebih setuju dengan Deepak Chopra yang menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Dari sinilah sang kehidupan kemudian menarik kita tinggi-tinggi ke rangkaian realita yang oleh pikiran biasa disebut luar biasa. Di bagian lain bukunya, Chopra menulis : â€˜merging with another person is an illusion, merging with the Self is the supreme realityâ€™. Bergabung dengan orang lain hanyalah sebuah ilusi, tapi bergabung dengan sang Diri yang sejati, itulah sebuah realita yang maha utama.</p>
<p>Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita dengan Diri yang sejati. Ada yang menyebut Diri sejati terakhir dengan sebutan Tuhan, ada yang memberinya sebutan kebenaran, ada yang menyebutnya dengan inner life, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Apapun nama dan sebutannya, ketika Anda menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya : ahhhhh !</p>
<p>Serupa dengan pengalaman jatuh cinta ketika kita masih muda, di mana semua unsur badan dan jiwa ini demikian kuat dan perkasanya, demikian juga dengan jatuh cinta sebagai kejadian spiritual. Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Dan yang paling penting, semuanya kelihatan serba sempurna. Air sungai, daun di pohon, desir angin, suara ombak, wajah pegunungan, demikian juga dengan pekerjaan, keluarga, atasan, bawahan. Seorang sahabat yang kerap jatuh cinta seperti ini, pernah mengungkapkan, dalam keadaan jatuh cinta, setiap lembar daun di pohon apapun terlihat seperti sehalaman buku suci yang penuh inspirasi. Setiap hembusan angin adalah pelukan-pelukan tangan kekasih yang amat menyentuh. Setiap suara air adalah nyanyian-nyanyian rindu yang menyentuh kalbu. Anda tertarik ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/jatuh-cinta-sebagai-kejadian-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Ruang Kosong dalam Jiwa</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/agama-dan-ruang-kosong-dalam-jiwa/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/agama-dan-ruang-kosong-dalam-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2005 05:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Agama dan Ruang Kosong dalam Jiwa KEHIDUPAN beragama seyogianya mampu didayagunakan untuk meningkatkan keluruhan moral dan menguatkan daya tahan mental dalam mengarungi kehidupan ini. Kualitas moral yang makin meningkat dapat mengantarkan manusia makin memiliki rasa kemanusiaan yang makin tinggi. Agama sesungguhnya sudah memberikan kedudukan yang lebih mulia kepada manusia kalau dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agama dan Ruang Kosong dalam Jiwa</p>
<p>KEHIDUPAN beragama seyogianya mampu didayagunakan untuk meningkatkan keluruhan moral dan menguatkan daya tahan mental dalam mengarungi kehidupan ini. Kualitas moral yang makin meningkat dapat mengantarkan manusia makin memiliki rasa kemanusiaan yang makin tinggi. Agama sesungguhnya sudah memberikan kedudukan yang lebih mulia kepada manusia kalau dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Karena itu kehidupan beragama seyogianya berdaya guna untuk membangun masyarakat yang lebih humanis dari pada manusia yang tidak menganut suatu agama.</p>
<p>Kalau ada manusia yang semakin tidak memiliki rasa kemanusiaan karena agama yang dianutnya, tentunya patut dipertanyakan cara manusia tersebut memahami agama yang dianutnya. Agama itu adalah sumber kebenaran dari Tuhan. Agama bukan sumber pembenar setiap perbuatan dengan mengatasnamakan agama. Banyak orang melakukan suatu perbuatan dengan mengatasnamakan agama, tetapi perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. Agama adalah media untuk menuju jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan dalam kitab suci.<span id="more-78"></span></p>
<p>Agar agama menjadi media menuju jalan Tuhan maka pesan-pesan ajaran agama harus dapat mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa. Jiwa yang diisi oleh pesan-pesan agama itu hendaknya disemaikan dalam kegiatan beragama dengan cara yang penuh kesan mendalam. Semakin berhasil kita menanamkan pesan dengan kesan yang mendalam maka makin kuatlah pesan ajaran agama itu mengisi ruang-ruang jiwa yang kosong itu. Kalau ruang jiwa yang sarat dengan pesan-pesan ajaran agama maka pesan ajaran agama yang berkesan itulah yang akan menjadi pengendali perilaku dalam diri manusia.</p>
<p>Makin kuat kesan dari pesan ajaran agama mengisi jiwa seseorang makin dalam motivasi seseorang untuk berperilaku yang luhur. Demikian juga makin kuatlah mental seseorang untuk mengatasi berbagai AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan) hidup dalam zaman post modern ini semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya. Karena itu, kegiatan beragama untuk menanamkan pesan-pesan ajaran agama dengan cara yang lebih berkesan harus lebih diprioritaskan.</p>
<p>Orang yang sukses meraih suatu jabatan dalam birokrasi maupun jabatan sosial politik dan bisnis akhirnya akan gagal kalau jiwanya kosong akan pesan-pesan ajaran agama. Meskipun mereka rajin ke tempat-tempat pemujaan Tuhan, belum tentu secara otomatis ruang jiwanya terisi oleh pesan-pesan agama. Bahkan, bisa saja mereka merasa lebih dikasihi oleh Tuhan karena telah meraih jabatan yang strategis itu. Sikap itu dapat menimbulkan sikap merasa lebih bermoral daripada mereka yang tidak memiliki jabatan. Sikap yang superior itu dapat menjerumuskan mereka menyalahgunakan jabatannya untuk berbuat yang berlawanan dengan ajaran agama. Kehidupan beragama akan dijadikan media pembenar atas perbuatannya. Mereka akan merasa sah menyingkirkan mereka yang berani mengkritik. Demikian juga mereka akan merasa sudah berbuat mulia dengan mengguyur mereka yang suka menyanjung-nyanjungnya dengan anggaran publik yang mereka kuasai. Mereka yang dianggap sukses dalam meraih jabatan duniawi, kalau jiwanya kosong dari pesan-pesan ajaran agama akan dapat menyalahgunakan jabatan tersebut untuk berbuat semakin jauh dengan pesan-pesan ajaran agama yang dianutnya.</p>
<p>Mereka yang hidup dengan keputusasaan yang dalam juga karena ada ruang-ruang jiwanya yang kosong dari pesan-pesan ajaran agama.</p>
<p>Kalau ruang jiwa seseorang sudah terisi pesan-pesa ajaran agama yang berkesan maka mereka tidak akan kehilangan diri dalam kesuksesan maupun kegagalan. Mereka akan menerima kesuksesan maupun kegagalan sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja dalam dinamika kehidupan ini. Pejabat yang menyalahgunakan jabatan, orang bunuh diri karena putus asa atau orang melakukan kekerasan karena gelap mata, semuanya itu terjadi karena adanya ruang-ruang kosong dalam jiwanya dari pesan-pesan ajaran agama yang dianutnya.</p>
<p>Maraknya korupsi, penyalahgunaan wewenang, premanisme, demikian juga mereka yang terlibat narkoba dan perilaku menyimpang lainnya karena kegiatan beragama belum berhasil menanamkan pesan-pesan ajaran agama yang dianut dengan cara yang berkesan. Kegiatan beragama yang dilakukan dengan cara yang serba wah, dapat menimbulkan gaya hidup mewah. Orang yang bergaya hidup mewah tidak akan pernah peduli dengan sesamanya yang menderita. Gaya hidup mewah menimbulkan hidup yang tidak pernah puas pada suatu status kemewahan. Gaya hidup mewah akan menghilangkan rasa kemanusiaan untuk menolong sesama manusia. Gaya hidup mewah akan menghasilkan kesenjangan sosial yang semakin tajam.<br />
Source :   Balipost</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/agama-dan-ruang-kosong-dalam-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Menuju Ketenangan</title>
		<link>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/hidup-menuju-ketenangan/</link>
		<comments>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/hidup-menuju-ketenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2005 08:58:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Me My Self</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yanuar.kutakutik.or.id/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Hidup Menuju Ketenangan Yascaitanprapnuyat sarva. Anascaitan kevalamstyajet. Pratanat sarva kamanam. Parityago visisyate. (Manawa Dharamasastra.II.95). Maksudnya: Andaikata semua orang harus mendapatkan benda dan jasa yang memberi kesenangan untuk indrianya, sedangkan yang lain harus mengikisnya maka pengurangan kesenangan adalah lebih baik daripada terus giat mencari kesenangan. BELUM lama ini short message services (SMS) yang berisi ajakan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hidup Menuju Ketenangan</strong></p>
<p>Yascaitanprapnuyat sarva.<br />
Anascaitan kevalamstyajet.<br />
Pratanat sarva kamanam.<br />
Parityago visisyate.<br />
(Manawa Dharamasastra.II.95).</p>
<p>Maksudnya: Andaikata semua orang harus mendapatkan benda dan jasa yang memberi kesenangan untuk indrianya, sedangkan yang lain harus mengikisnya maka pengurangan kesenangan adalah lebih baik daripada terus giat mencari kesenangan.</p>
<p>BELUM lama ini short message services (SMS) yang berisi ajakan untuk menghentikan penyalahgunaan dan kejahatan narkoba, beredar di kalangan masyarakat yang memiliki handphone. SMS tersebut dikirim mengatasnamakan Presiden RI. Ajakan tersebut cukup positif, karena narkoba yang merupakan salah satu hasil pengembangan iptek, justru disalahgunakan. Karena salah dalam penggunaannya, ujung-ujungnya menimbulkan berbagai musibah.</p>
<p>Kemajuan iptek jika tidak diimbangi dengan upaya serius menguatkan jati diri sebagai manusia ciptaan Tuhan akan dapat menimbulkan masalah. Sebagai manusia ciptaan Tuhan seyogianya mengupayakan membangun moral yang luhur, mental yang kuat dan badan yang sehat.</p>
<p>Salah satu masalah hidup modern dewasa ini yakni bergesernya orientasi hidup. Orientasi hidup yang bergeser itu adalah dari hidup mencari ketenangan bergeser menjadi hidup mencari kesenangan indriawi. Hidup ideal adalah yang tenang lahir batin. Perubahan orientasi hidup dari mencari ketenangan menuju kesenangan banyak menimbulkan berbagai kerusakan moral, mental dan kesehatan fisik manusia.</p>
<p>Timbulnya penyalahgunaan dan kejahatan narkoba itu sesungguhnya berawal dari kebiasaan hidup yang lebih menonjolkan berhura-hura secara berlebihan.</p>
<p>Hidup senang dan susah itu bagaikan gunung dan jurang. Semakin tinggi gunung itu maka jurangnya juga semakin dalam. Semakin tinggi kita bersenang-senang mengumbar nafsu semakin dalam duka derita yang menghadangnya.</p>
<p>Demikian juga hidup bersenang-senang yang tidak dikendalikan dengan baik akan dapat menjerumuskan orang sampai pada tahapan kecanduan narkoba. Dari penyalahgunaan narkoba ini muncullah berbagai kejahatan dengan dimensi yang semakin meluas.</p>
<p>Salah satu di antara tujuh dosa sosial yang pernah dikemukakan oleh Mahatma Gandi adalah masalah hidup mencari kesenangan. Gandi menyatakan mencari kesenangan yang tidak dikendalikan berdasarkan kesadaran budhi dapat menimbulkan dosa sosial. Memang mencari kesenangan tentunya merupakan dambaan setiap manusia normal di dunia ini. Namun, carilah kesenangan yang tidak berisiko tinggi membawa pada kedukaan yang dalam. Carilah kesenangan secara wajar dan tidak melaggar norma hidup, terutama norma agama, kesusilaan, kesopanan dan norma hukum.</p>
<p>Bali sebagai daerah tujuan wisata tentunya memiliki berbagai sarana dan fasilitas untuk menyajikan hidup bersenang-senang. Hal itu tentu tidak akan menjadi masalah sepanjang sarana dan fasilitas tersebut diadakan sesuai dengan berbagai ketentuan hukum. Yang lebih penting lagi pengoperasian dari sarana hiburan mencari kesenangan itu benar-benar sesuai dengan normanya.</p>
<p>Demikian juga pengawasan struktural dan sosial budaya wajib terus-menerus dilakukan demi menjaga citra Bali sebagai daerah budaya yang religius. Kalau Bali diubah menjadi tempat yang menyediakan sarana atau fasilitas untuk mengumbar hidup berhura-hura mencari kesenangan, maka cepat atau lambat citra Bali akan berubah dari pulau Dewata menjadi pulau Danawa. Mengubah hal ini dapat dimulai dengan mengubah kebiasaan menjadikan upacara yadnya sebagai media untuk berjudi seperti tajen dan pesta minuman keras seperti tuak, arak, berem dan sejenisnya.</p>
<p>Dalam Sarasamuscaya 257 ada dinyatakan &#8230;.haywa masukha-sukha darpawija wijah, haywa aturu, haywa anginum madya&#8230; Artinya: janganlah hidup bersenang-senang dengan berfoya-foya, janganlah tidur bermalas-malasan dan janganlah suka minum-minuman keras.</p>
<p>Dalam Sloka Sarasamuscaya ini sudah sangat jelas dinyatakan bahwa hidup bersenang dengan cara berfoya-foya tidak baik. Apalagi, tidak mau kerja keras hanya suka bermalas-malas dan mabuk-mabukan saja. Kondisi demikian akan dapat menyuburkan berkembangnya kejahatan penyalahgunaan narkoba.</p>
<p>Marilah dengan serius menanggapi SMS Presiden RI tersebut. Hal ini sangat patut dilakukan untuk menjaga Bali dari keterpurukan citra.</p>
<p>* I Ketut Gobyah<br />
Source :   Balipost</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yanuar.kutakutik.or.id/religi/hidup-menuju-ketenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

