Bekerja dalam Karmayoga

Kita bisa saja tetap gesit, tetap cermat, tapi tetap rileks secara psikologis. Justru bekerja seperti inilah yang berdaya-guna dan berhasil guna tinggi. Bukan bekerja dengan tegang, yang kelihatannya saja sibuk, jungkir-balik, namun hasilnya bukan saja acak-acakan, bermutu rendah namun juga sedikit. Ini sama sekali tidak produktif. Yang bekerja dengan tujuan agar dilihat bekerja, ‘pura-pura sibuk’, sebetulnya bukan saja sama dengan tidak bekerja sama sekali, namun justru cenderung mengacaukan perkejaan itu sendiri. Dan yang terpenting daripadanya adalah, hadirnya kepura-puraan, ‘penipuan-diri’, yang hanya akan menjauhkannya dari kejujuran, keterus-terangan.

Kerja seperti itu dimana kebanyakan dari kita memang bekerja seperti itu jelas bukan ‘kerja’ seperti yang dimaksudkan dalam ‘laku’ spiritual manapun. Kerja dalam Karmayoga misalnya, bukan saja berdasarkan sikap batin altruistis yang tanpa pamerih, namun dilakukan dengan penuh dedikasi dan rasa tanggung-jawab, serta kesadaran bahwasanya itu memang baik, bermanfaat dan perlu dikerjakan. Oleh karenanya, kerja seperti ini tak butuh sosok pengawas luar manapun, dan oleh karenanya dilaksanakan dengan rileks, dengan serileks-rileksnya.

Bekerja dengan kesadaran, dengan rileks, dengan penuh dedikasi dan rasa tanggung-jawab serta pengabdian dan tanpa pamerih, di bidang apapun itu, diharapkan atau tidak, akan menghadirkan ketenteraman hati dan kebahagiaan hidup. Kerja untuk mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga, apalagi untuk menimbun harta-benda yang hanya secuil saja didermakan karena agama yang dianut mensyaratkannya, menjanjikan sorga atau kebahagiaan sebagai imbalannya bekerja demi ketenaran, kemasyhuran dan menggapai status sosial tertentu di masyarakat, pengaruh, kekuasaan, yang semuanya bersifat egoistis itu, tidak termasuk di dalamnya. Ini bukan kerja seperti yang dimaksudkan didalam Karmayoga.

 

Karma Yoga dengan Berbagai Cerita dan Definisi.

  1. 1. Sesuai dengan namanya, yoga ini melibatkan karma (=tindakan).  Tujuan dari Karma Yoga adalah mencapai persatuan dengan Yang Maha Tinggi melalui tindakan yang benar, yaitu tindakan yang dilakukan apa adanya tanpa mengharapkan imbalan (selfless service). Ini adalah jalan bagi mereka yang digerakkan oleh rasa simpati, dan welas-asih terhadap orang-orang yang menderita. Jalan ini adalah bagi mereka yang dengan semangat berusaha meringankan beban penderitaan dan
    kesedihan orang lain. Jalan ini menekankan kemurnian motif tanpa dinodai oleh kepentingan pribadi. Melalui tindakan altruistik, pengikut Karma Yoga akan sampai pada pemahaman kehidupan yang lebih mendalam dan menjadi lebih dekat dengan Kehidupan Ilahi yang dijumpai pada semua makhluk.

2. Karma Yoga pada dasarnya ialah Bertindak, atau menjalankan kewajipan dalam hidup seseorang mengikut dharma, atau tanggungjawab, tanpa berasa bimbang tentang keputusannya – sejenis pengorbanan perbuatan yang tetap kepada Tuhan. Karma Yoga ialah tindakan yang diambil tanpa memikirkan manfaat. Dalam tafsiran yang lebih moden, ini boleh diperlihatkan sebagai perbuatan-perbuatan kewajiban yang dilaksanakan tanpa membenarkan keputusan menjejaskan perbuatan-perbuatan seseorang. Telah dikatakan bahawa keputusan terdiri daripada tiga jenis:

    • keputusan seperti yang dirancangkan;
    • keputusan yang berlawanan dengan apa yang dirancangkan; atau
    • campuran kedua-dua yang tersebut.

Jika seseorang melaksanakan kewajipannya (seperti yang ditentukan dalam Veda tanpa sebarang harapan terhadap hasil perbuatannya, dia harus akan berjaya. Ini termasuk, tetapi tidak dihadkan, kepada penumpuan masa kepada profesion yang dipilih oleh seseorang dan kesempurnaannya kepada Tuhan. Ini juga dapat dilihat dalam perkhidmatan komuniti dan sosial, kerana perbuatan-perbuatan itu memang dibuat tanpa berfikir tentang manfaat peribadi

3. Jalan Menuju Tuhan Melalui Kerja
Karma Yoga adalah jalan untuk mencapai kesempurnaan, yaitu menuju Tuhan, berdasarkan perbuatan baik (cuba-karma) dan tidak mengikatkan diri pada hasil kerja itu.
Kerja adalah pokok kehidupan manusia. Dorongan untuk bekerja bukanlah lagi motivasi ekonomis melainkan motivasi psikologis. Jika terpaksa menganggur, sebagian besar orang akan gelisah; dan orang cenderung kehilangan semangat bila terpaksa pensiun. Jalan menuju Tuhan melalui kerja dimaksudkan untuk orang-orang yang berwatak aktif. Jalan ini mempunyai rute-rute alternatif tergantung pendekatan kita, apakah secara filosofis atau dengan sikap cinta. Dalam rangka ke empat yoga, maka karma yoga bisa dipraktekkan dengan gaya yoga jnana (pengetahuan) atau gaya yoga bhakti (devosi).
Seorang karmin (orang yang menjalankan karma yoga) mengerjakan pekerjaannya sebagai persembahan kepada Tuhan, dan akan berusaha memberikan hasil kerja yang terbaik yang mampu ia lakukan. Dalam mengerjakan pekerjaannya, bahkan dalam setiap tindakannya sehari-hari, ia melakukannya dengan tidak mempertimbangkan untung-rugi bagi dirinya sendiri.

“Ia yang bekerja tanpa perasaan lekat pada pekerjaannya dan menyerahkannya untuk Tuhan, tidak ternoda oleh akibatnya, bagaikan daun bunga teratai tidak ternoda oleh air di sekitarnya” Bhagavad-Gita (V: 10).

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

27. June 2008 by Me My Self
Categories: Personal | Tags: , , , , | 15 comments

Comments (15)

  1. wah saya lom bisa menjalankan karmayoga itu. saat kerja jarang ingat Tuhan, paling2 ingat dollarnya langsung, untuk keluarga dan masa depan…
    maaf Tuhan

  2. waaa bli yan, lagi lagi tulisana bikin mangap…bagus ya…*smilin*

  3. mula pas ajaran karmayoga nya…. sebenarnya kalo ini dipahami, tidak akan ada pengangguran di Bali…. bekerja sesuai suwadharma masing-masing…. top deh postingnya…

  4. oooh, pantes pakde suka diam pas kerja. rupanya sambil beryoga. 😀

  5. memang ada 4 jalan untuk memusatkan diri dan selalu berjalan di jalan Nya. dan sebaiknya ini juga pilihan ya. ada bhakti,karma, jnana dan raja.silakan saja.sayangnya di bali sering kali kulturnya membuat kita semua terperangkap dengan kultur bhakti marga, yang memprioritaskan bahkti dgn berbagai urutan dan alatnya yang terkesan jadinya hanya baju luarnya saja.karma yoga adalah justru lebih dalam.tanpa membedakan kulit.

  6. aduh saya belom bisa nih, baru kulit luar aja persis seperti yang pak dokter oka bilang T_T

  7. Salam Kenal,

    Tiang setuju, dengan bli Yan…
    Namun saya merasa sangat susah menjalankan Karmayoga, karena himpitan kebutuhan ekonomi selalu memaksa tiang untuk berfikir hasil/pamrih dalam bekerja.

    Dan tulisan Bli Yan telan membuat saya berfikir untuk mengevaluasi setiap tindakan saya dalam bekerja. Kerja / karma adalah yadnya, dan hasilnya tidak semata-mata uang namun yang pasti “pala” dalam arti luas.

  8. wah.. klo pgen menjalankan Karma Yoga, paling tidak kita dah punya kehidupan yg lumayan mapan.. So apa yang kita kerjakan akan lebih terarah dan berdasarkan prinsip Karma Yoga itu sendiri. Memang sih, Tidak semua orang yg mapan bisa melakukan ajaran Tsb. …

  9. artikelnya luar biasa!!!
    enak dibaca & padat isinya.

  10. maklum lah bli
    iman tiang masih lelet

  11. Hmm.. saya sih baru sebates kerja yang sehobi. jadi blom terbebani oleh pikiran macem2. 🙂

  12. bekerja sesuai kewajiban juga merupakan salah sau cara untuk mendekatkan diri ke ida sang hyang widhi ya bli???

  13. Keren, Bisa jadi inspirasi buat saya,…..
    Selama ini sepertinya merasa sibuk sekali tetapi setelah dilihat kembali, ternyata nggak ada yang saya perbuat…..duh!

  14. wah keren nich, tapi kayaknya susah untuk diterapkan yang benar, seperti yang diinginkan………

  15. OSA,,
    Saya mau tanya nih, kalau bisnis MLM dan bisnis internet (seperti uang gila.com dst) apakah masuk ke dalam karma yoga juga? atau seperti apakah sudut pandang Hindu mengenai bisnis MLM tersebut??? mohon dijawab.

Leave a Reply

Required fields are marked *