Harmoni Pantai

Penyesuaian-diri dan penyelarasan-diri guna mencapai harmonisasi, selalu dibutuhkan dimanapun kita hidup. Bagi kita, seoalah-olah tak disediakan pilihan arif lainnya kecuali menggalang harmonisasi.

Kitapun tak punya cukup waktu dan tenaga untuk selalu berkonfrontasi dengan alam, dengan lingkungan sosial dimana kita hidup, kendati itu kita lakukan dalam tak terhitung banyaknya kelahiran demi kelahiran.

Untuk bisa bersyukur dan berterimakasih, dan oleh karenanya muncul niatan luhur untuk menjalin harmoni dengan alam beserta segenap isinya, akan selalu relevan selama manusia masih harus tinggal di alam ini. Pada dasarnya, di alam manapun kita hidup, alam itu akan memaksakan harmonisasinya melalui hukum-hukum spesifiknya. Sebagai contoh dalam sekala kecil saja, walaupun kita berasal dari sebuah daerah tropis, untuk bisa hidup di kutub kita mesti menyesuaikan-diri sedemikian rupa sehingga tercapai “titik harmonis” kita dengan iklim kutub. Bila tidak, itu sama artinya dengan bunuh-diri.

Walaupun menguasai dan menundukkan alam bukan menjadi tujuan kita, harmonis dengannya memberi kita segala
kesempatan dan menyisakan cukup enerji bagi kita untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih fundamental, lebih luhur, dan lebih terarah-langsung kepada tujuan-utama kita —apapun itu adanya.

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

25. January 2008 by Me My Self
Categories: Personal | Tags: , , , | 5 comments

Comments (5)

  1. Next tripp !! back to nature, ayo kapan kita bisa berharmonisasi, memberikan asupan ke otak kiri dan otak kanan. Jangan melulu harmonisasi antara manusia dan laptop aja, jadinya apa coba ? Duh .. klo kuhamat-hamati ya, Bli Yanuar ini kek Butet Kerta .. presiden rep mimpi itu lo. Humm apa ini deyafuw ya hihihii. Pertamaaaxx!!

  2. jadi sedih, baca2 pantai di Kuta sudah begitu kotornya sekarang 🙁

  3. hmm.. dikutub yah…seleksi alam.. yang kuat bertahan.. hehe
    cuma rasanya harmonisasi ini jauh dari cermin alam indonesia kita… oh hutanku yang gundul.. oh pantaiku nankotor… oh..au ah gelap.

  4. Banyak dari kita yang memusuhi alam dan merusak alam. Tidak bisa disalahkan jika alam balas dendam dengan memusuhi dan merusak manusia.

  5. wuih sama2 pecinta alam dan ombak

    wave freak
    www[dot]ombakku[dot]com

Leave a Reply

Required fields are marked *