Ibu Pertiwi

pinang.jpgHidup di alam ini mau-tak-mau kita harus mempelajarinya, harus belajar tentangnya. Sekurang-kurangnya, kita diharuskan untuk belajar tentang kaidah-kaidahnya yang berkaitan langsung dengan kehidupan kita. Alam sendiri, sebetulnya tidak berkepentingan atas hal itu. Ia tak peduli, apakah kita mau mempelajarinya atau tidak. Ia tak akan menghukum siapapun melalui hukum-hukum fisikanya. Hukum-hukum itu hanyalah mekanisme kerjanya, bagaimana ia mengatur dirinya sendiri beserta segenap makhluk hidup di dalamnya dalam disiplin tinggi. Kitalah yang berkepentingan sekali akan hal itu.

Tidak bisa melihat kalau kitalah yang berkepentingan untuk mempelajarinya, sehingga kita tidak mempelajarinya, kita sendirilah yang rugi. Jangankan untuk bisa menerima manfaat daripadanya, tidak mempelajarinya, sehingga tidak tahu kaidah-kaidahnya dan bagaimana untuk menjadi selaras dengannya, kita sendirilah yang akan selalu diancam bencana.

Ibu Pertiwi sebetulnya amat sangat penyabar, amat sangat pemaaf, amat sangat pemurah, amat sangat adil. Beliau tak akan pernah menghukum putra-putrinya yang manapun. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum terjadinya suatu bencana, dengan caranya sendiri, Ibu Pertiwi telah memberi peringatan-peringatan kepada kita. Kalaupun pada akhirnya kita tetap ditimpa bencana, maka itu hanya lantaran kita sendiri yang tidak mengindahkan peringatan-peringatan yang telah diberikan. Makanya, kalaupun mesti ada sesuatu yang dipersalahkan atas setiap bencana yang terjadi, maka itu adalah kebodohan, keteledoran, kesombongan dan keangkuhan kita sendiri. Merasa diri sebagai makhluk cerdas, makhluk berakal-budi, kita merasa punya kuasa penuh terhadap alam, berikut segenap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Bahkan, tak sedikit di antara kita yang merasa mendapat mandat penuh dari Tuhan untuk menjadi penguasa dan penakluk alam, hanya lantaran kitab-kitab kuno -bikinan manusia sendiri-menyebutkan demikian. Alangkah takaburnya bukan?

Alih-alih bersyukur dan berterimakasih telah diterima sebagai sekelompok putra-putrinya, dipelihara dan dihidupi, disediakan segala kebutuhan, dengan angkuh dan semena-menanya kita mengobrak-abrik alam, mengeksploitasinya habis-habisan hingga batas-batas kritis yang malah membahayakan kelangsungan hidup kita sendiri.
Sebagai putra-putri terkasih dari Ibu Pertiwi, tak pernah terbersit di benak kita untuk menghormatinya, mengasihinya seperti beliau mengasihi kita dan segenap leluhur dan keturunan umat manusia, walaupun -kalau mau hitung-hitungan- kita samasekali tidak layak untuk mendapatkan semua itu.

Agaknya jelas kalau akal-budi dianugrahkan kepada umat manusia bukanlah sekedar untuk mengeksploitasi alam dan makhluk hidup lainnya, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri. Sang Penganugrah-nya tentu punya rencana yang sudah teramat matang dan arif akan hal itu. Kita yang bodoh namun congkaklah yang tidak mengetahuinya, tidak menyadarinya.

Kalau saja kita mau sedikit rendah-hati dan mau belajar dari Ibu Pertiwi, bukan saja beliau akan dengan senang-hati menerima kita sebagai siswa-siswinya, Ibu Pertiwi akan membukakan banyak rahasia-rahasianya kepada kita, kepada putra-putri terkasih dan tersayangnya. Seperti yang sudah-sudah, melalui pengungkapan rahasia-rahasianya, Ibu Pertiwi bukan saja akan menunjukkan jalan keselamatan kepada kita, namun juga limpahan kesejahteraan dan kemakmuran hidup.

Oh Ibu Pertiwiku…..
Engkaulah wakil Bapa di Semestaraya. Melalui kandungan-Mulah segenap makhluk hidup dilahirkan;
Melalui kandungan-Mu jualah segenap galaksi, tata-surya, matahari, bintang, bulan, dan segenap benda-benda langit yang bercahaya terlahir. Dengan penuh kasih Engkau mendekap kami di dada-Mu, Mengasuh dan memelihara kami di pangkuan-Mu. Walaupun aku tahu Engkau selalu memaafkan kami, Terimalah permohonan maaf kami untuk kesekian kalinya ini.
Maafkanlah putra-putri-Mu yang bodoh tapi angkuh ini, yang penuh kealpaan namun sombong ini. Terimalah sekali lagi sembah-sujud kami seperti Engkau selalu menerima sebelumnya.

Oh Ibuku terkasih…..
Ajarilah kami bagaimana bersabar,
Bagaimana memaklumi dan memaafkan,
Bagaimana mengasihi dan menyayangi.
Bagikanlah lagi kepada kami ketabahan-Mu yang tiada
tara.
Ijinkan dan bimbinglah kami untuk kelak kembali lagi
ke pangkuan-Mu, ke dalam dekapan-Mu dan Bapaku dalam
damai.

NR


Technorati : , , ,

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

02. November 2007 by Me My Self
Categories: Personal, Religi | Tags: , , , , , | 4 comments

Comments (4)

  1. oh, ibu pertiwi …. kan selalu ku puja dikau hingga titik darah penghabisan. merdeka !
    //…. kan udah merdeka –>

  2. oh ibu pertiwi….
    bapak pertiwi kapan pulang nya..??

    tak kusangka klepon jagi berkata-kata manis
    tepatnya : kata-kata kamu semanis dan selegit manisnya dan legitnya klepon

    mantap Broo kayaknya loe ada bakat jadi penulis . ..

    penuh konsep, dan apa yang mau kamu sampaikan tertuang di tulisan ini 🙂

  3. Bagus artikelnya, salam kenal

  4. Jeg seger puk ma’an siraman rohani dari A’ak Yanuar. hihihi ok brow… halah brow haha

Leave a Reply

Required fields are marked *