Ada beberapa kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah, tidak tahu dan tidak sadar kalau sebetulnya kita sudah punya ‘buku’ sendiri untuk dibaca, ditelaah, dicermati, lebih didalami dan dipahami baik-baik. Dimana kemungkinan ini sangat besar.
Kemungkinan yang kedua, yang melibatkan hanya segelintir orang saja, adalah merasa buku kita sendiri masih belum mencukupi, masih banyak kekurangannya, dan berharap bisa mengisi kekurangan itu bisa terlengkapi dari buku orang lain.
Kemungkinan ketiga adalah tidak merasa puas dengan buku sendiri. Yang ini sangat mirip dengan yang sebelumnya; bedanya mungkin hanya pada lebih tingginya kadar keserakahannya ketimbang ketidak-percayaan-diri yang lebih berperan pada yang sebelumnya.
Kemungkinan keempat adalah adanya niat untuk membandingkan. Yang ini sudah tahu betul isi bukunya, dan merasa kalau bukunya itu sudah lengkap, sudah memuat apa yang perlu dimuat, sudah berisi apa yang perlu diisi. Ia sebetulnya tak merasa perlu lagi tambahan atas isi bukunya itu, namun masih punya keinginan membandingkan cara penyajiannya misalnya.

Nah…sekarang mari kita lihat, tanyai diri kita masing-masing; termasuk yang manakah kita ini? Masuk kelompok keempat, ketiga atau kedua, ataukah yang pertama? Namun jangan salah; “merasa” sudah punya buku belum tentu berarti benar-benar sudah punya buku;
demikian juga halnya “merasa” bukunya sudah lengkap, sempurna, tak kurang suatu apapun. Dan kelihatannya, yang seperti ini tidak jauh lebih sedikit ketimbang yang tidak tahu kalau sudah punya buku sendiri.