Merasakan Penderitaan Orang Lain

Merasakan Penderitaan Orang Lain

TINGGI rendahnya derajat seseorang tidak dapat diukur dari penampilan fisiknya. Misalnya, karena ia berpakaian yang mewah, berkendaraan mahal, makan di restoran yang mewah, menginap di hotel berbintang lima. Berpendidikan tinggi di luar negeri. Bepergian dengan pesawat terbang dengan kursi VIP. Menyelenggarakan upacara agama yang mewah dan gemerlapan atau karena ia keturunan bangsawan.

Semua itu bukanlah sebagai ciri orang yang berderajat tinggi menurut pandangan agama. Swami Satya Narayana menyatakan orang yang dianggap berderajat tinggi itu adalah orang yang merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya. Untuk mengukur orang yang merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya bukan berdasarkan pernyataannya, tetapi berdasarkan kenyataan bahwa ia selalu berusaha dengan banyak cara menolong orang yang menderita itu. Janganlah penderitaan orang lain digunakan untuk mencari atau mempertahankan kedudukan dan popularitas. Orang yang menjadikan penderitaan orang lain untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri adalah orang yang berderajat rendah.
Next Pages
Dalam krisis dunia dewasa ini banyak proyek yang diprogramkan dengan alasan untuk menolong orang miskin. Bahkan di Indonesia ada istilah Jaring Pengaman Sosial yang diproyeksikan untuk menolong orang yang menderita. Program tersebut ternyata banyak bocornya di jalan-jalan dan penderitaan pun belum banyak yang dapat diatasi. Mengapa sampai terjadi hal yang demikian itu, mungkin karena masih banyaknya orang-orang yang berderajat rendah menduduki jabatan tinggi. Mungkin mereka dipercaya menduduki jabatan itu karena secara formal mereka memiliki pendidikan tinggi mengenai ilmu sosial yang dianggap mampu memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan kesejahtraan yang adil. Mungkin secara teoretis mereka itu hebat atau banyak berbicara tentang rakyat yang menderita. Kalau tanpa merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya mereka itu justru akan menyalah gunakan penderitaan orang lain.

Salah satu fungsi agama seperti dinyatakan dalam kakawin Ramayana adalah Gumawe Sukaninikang rat. Artinya membuat rakyat hidup bahagia. Demikian juga ada dinyatakan dalam kakawin Ramayana tentang nasihat Sri Rama kepada Bharata, adiknya, saat akan menjalankan tugas sebagai raja di Ayodya Pura. Salah satu nasihatnya dinyatakan sebagai berikut: Ksayan nikang papan nahan projana. Artinya menghilangkan penderitaan orang lain itulah hendaknya selalu diusahakan.

Penderitaan yang banyak terjadi dewasa ini bukan penderitan kultural, tetapi lebih banyak penderitaan struktural. Ini artinya, penderitaan terjadi karena pelaksanaan kebijakan dari atas yang sangat tidak memihak mereka yang menderita. Pernah ada suatu seminar yang diselenggarakan oleh perusahaan milik negara yang menyatakan selalu merugi. Tetapi kenyataannya para pejabat perusahaan tersebut fasilitasnya tetap mewah; ruang kerjanya, kendaraan dinasnya, rumah dinasnya. Mereka pun selalu bepergian dengan pesawat udara klas VIP meskipun jarak perjalanannya tidak begitu jauh. Bahkan dalam keadaan krisis seperti saat ini pun banyak yang bagi-bagi duit, bahkan berebut jabatan. Piknik bagi-bagi duit dengan alasan studi banding, juga dengan alasan tirtha yatra.

Perjalanan suci keagamaan adalah suatu bentuk bhakti kepada Tuhan. Semestinya janganlah menggunakan fasilitas negara. Gunakan milik diri pribadi sesuai dengan kemampuan sendiri. Karena tirtha yatra tidak harus ke tempat-tempat suci yang jauh. Bertirtha yatralah di temat-tempat suci yang mungkin dijangkau dengan kemampuan sendiri. Kalau memang kemampuan kita sangat terbatas, tirtha yatra cukup dilakukan di tempat-tempat suci yang dekat-dekat saja. Toh nilai rohaninya sama saja. Sangat tergantung ketulus ikhlasan dan keheningan hati kita melakukan tirtha yatra tersebut.

Meskipun tirtha yatra dilakukan jauh-jauh sampai ke luar negeri, apabila kesombongan masih terpelihara dari sudut pandang agama hal itu sesungguhnya kegagalan. Karena salah satu tujuan tirtha yatra adalah menghilangkan sifat sombong atau angkuh ingin dipuji. Demikian juga dalam melakukan dana punia. Sangat tidak bermakna dana punia itu kalau dengan cara mempermainkan uang negara. Kalau ingin berdana punia pakailah uang sendiri dengan menyisihkan pendapatan sendiri secara tulus dan ikhlas. Meskipun jumlahnya sedikit, kalau dilakukan dengan ikhlas maka dana punia akan menimbulkan vibrasi kesucian.

Kalau dana punia dengan mempermainkan uang publik, apa lagi untuk mencari nama, itu justru akan menimbulkan vibrasi buruk.

Source : Balipost

About Me My Self

Hanya seseorang yang belajar untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menjadikannya sesuatu yang akan berguna untuk suatu hari nanti.

07. June 2005 by Me My Self
Categories: Personal | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *