Semasih ada pencitraan yang melahirkan seluruh struktur dari konflik, pasti akan ada pemisah-misahan. Makanya seseorang mesti mempelajari ‘seni melihat’, bukan hanya melihat awan-awan yang berarak dan warna-warni bunga, pada gerakan dari sebuah pohon dalam tiupan angin, melainkan benar-benar melihat diri kita sendiri seperti apa ia adanya; bukan untuk mengatakan, ‘Ia jelek’, ‘Ia cantik’, atau ‘Hanya segitu sajakah?’ —atau semua pernyataan-pernyataan lisan seseorang sehubungan dirinya itu.

Manakala kita menatap diri kita dengan jernih, tanpa pencitraan, barangkali kita bisa *menyingkap apa yang sejati itu sendiri*. Dimana kesejatian itu bukan ada di dalam semesta pikiran melainkan berasal dari *persepsi langsung*, di dalam mana tak ada pemisah-misahan antara si pemerhati dengan yang diperhatikannya …